Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cina benteng’

SEJAK usianya masih belasan tahun, Ong Gian (47) sudah mengenal gambang kromong. Petani di Neglasari, Tangerang, ini termasuk salah satu pemain gambang kromong dan sering tampil dalam acara-acara pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng Tangerang.

Pada malam Imlek 2554, Ong Gian dan kelompoknya, “Sinar Harapan”, yang asal Desa Jelupang, Serpong, tampil di Khongcu Bio (tempat peribadatan masyarakat Khonghucu) di kawasan Pasar Lama, Tangerang.

“Keahlian ini warisan turun-temurun dari ayah dan kakek,” kata Ong Gian seusai pementasan, Sabtu (1/2) dini hari. Di Sinar Harapan, juga ada saudaranya, yakni Ong Kiong.

“Sehari saja tidak mendengar musik gambang kromong, hidup rasanya hampa, seperti sayur tanpa garam,” katanya.

Bagi masyarakat Cina Benteng-sebutan bagi komunitas Cina Tangerang-gambang kromong adalah bagian dari kesehariannya. Kesenian tradisional ini sangat populer. Setiap pesta perkawinan bisa dipastikan diramaikan dengan gambang kromong sebagai hiburan utama.

Menurut pengurus Majelis Agama Konghucu Tangerang, Joko Santosa, penampilan gambang kromong di Khongcu Bio Pasar Lama merupakan salah satu usaha mengenang perayaan Imlek tempo dulu.

Lagu-lagu yang dibawakan sebagian merupakan lagu klasik, seperti Cinte Manis Berdiri, Semar Gurem, Gula Ganting, dan Pecah Piring. Disebut lagu klasik karena lagu-lagu itu jarang dapat dimainkan oleh pemain musik yang masih muda. Tak heran bila pada malam Imlek lalu, penyanyi yang membawakan lagu-lagu klasik itu usianya sudah lanjut, 77 tahun.

Meski usianya sudah uzur, Ny Masnah (77) yang mengaku sudah menyanyi sejak 60 tahun lalu terlihat masih segar saat tampil di panggung. Tidak heran, dia memang sering tampil dalam berbagai pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng di Curug, Tigaraksa, Legok, Serpong, Teluknaga, dan Batuceper.

Meski penghasilannya tak seberapa, Masnah menganggap gambang kromong adalah bagian penting hidupnya. Kesenian tradisional itu pula mata pencariannya.

Ia pula satu-satunya penyanyi lagu klasik gambang kromong yang masih hidup di Tangerang. Memang ada dua penyanyi muda lagi di Sinar Harapan, tetapi mereka baru belajar dan belum bisa menyanyikan lagu-lagu klasik.

Saat ini tercatat sekitar 20 kelompok musik gambang kromong di Tangerang. Mereka biasa menerima pesanan manggung untuk menghibur tetamu dalam pesta perkawinan dengan tarian cokek dan pesta keluarga masyarakat Cina Benteng tradisional, khususnya di pedesaan.

Para pemain musik pada umumnya orang-orang Cina Benteng, yang memperoleh keahlian secara turun-temurun.

Go Jin (45) yang biasa memainkan alat musik teh yan mengaku sudah 20 tahun bergabung dalam grup-grup gambang kromong yang berbeda dan sering tampil di kampung-kampung Cina Benteng di Legok, Tangerang. Lelaki yang sehari-harinya pengojek ini termasuk pemain langka karena tidak sembarang orang bisa memainkan teh yan, semacam rebab berukuran kecil yang berasal dari Cina.

GAMBANG kromong yang cikal-bakalnya dari etnis Cina itu memang merupakan contoh musik yang sudah beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut sinolog Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto, tidak ada yang tahu pasti kapan gambang kromong mulai disukai masyarakat Cina Benteng.

Di Jakarta, gambang kromong saat ini sering ditampilkan dalam berbagai acara yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun yang diadakan masyarakat Betawi, Meski para pemain musiknya bukan orang-orang Cina seperti di Tangerang, itu menegaskan adanya pembauran yang harmonis antara unsur Indonesia dan unsur Cina seperti terlihat pada peralatan musiknya.

Selain teh yan, sejumlah alat musik yang berasal dari Cina adalah kong an yan (semacam rebab berukuran sedang) dan shu kong (semacam rebab berukuran besar). Sedangkan alat musik khas Indonesia, selain kromong, juga ada gambang, alat musik yang memiliki 18 sumber suara dari bilah, terbuat dari kayu, berasal dari Jawa dan Sunda. Juga kemong, semacam gong kecil berasal dari gamelan Jawa dan Sunda.

Sementara kendang, semacam tambur dengan dua permukaan, juga merupakan perangkat gamelan Jawa, Sunda, dan Bali yang fungsinya memberi irama.

Di tengah gencarnya serbuan budaya pop di Jakarta, gambang kromong masih bertahan dalam masyarakat Betawi meski usaha lebih banyak dilakukan pemerintah melalui beragam acara yang diselenggarakannya.

Tapi, di Tangerang, gambang kromong betul-betul hidup dan masih eksis dalam masyarakat tradisional Cina Benteng yang menganggap kesenian ini bagian penting dari kebudayaan dan tradisi mereka.

Beberapa lagu lama yang terkenal antara lain Pobin Kong Ji Lok, Pobin Pe Pan Tau, Gula Ganting, Lopan Ce Cu Teng, dan Pobin Pe Pan Tau, sedangkan lagu modern antara lain Balo-balo, Stambul Bila, Onde-onde, dan Stambul Lama. Sebagian lagu itu sudah direkam untuk konsumsi orang-orang asing dalam compact disc (CD) berjudul Music from the Outskirts of Jakarta oleh Smithsonian Folkways Recordings. [ksp]

Source: Kompas, Senin 3 Februari 2003

Read Full Post »

SEJARAH Cina Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat Cina di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.

Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang Cina yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.

Mengenai asal-usul kata Cina Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.

Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Cina Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah “Cina Benteng”.

Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang Cina menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang Cina yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC.

Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan Cina di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang Cina mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor.

Itulah sebabnya banyak orang Cina yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang-di luar pecinan di Pasar Lama dan Pasar Baru.

Meski demikian, menurut pemerhati budaya Cina Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai Cina Benteng.

Sebagai kawasan permukiman Cina, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).

Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.

Dalam penelitiannya, sarjana Seni Rupa dan Desain ITB Jurusan Desain Komunikasi Visual, Y Sherly Marianne, antara lain menyebutkan, sekitar 80 persen dari 19.191 warga Kelurahan Sukasari di Kotamadya Tangerang adalah orang Cina Benteng. Angka statistik April 2002 ini tidaklah mengherankan karena Pasar Lama masuk dalam wilayah Sukasari.

Menurut Sherly, kehidupan masyarakat Cina Benteng memang keras agar bisa bertahan hidup. Sebab, sebagian besar pekerjaan mereka bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan.

YANG unik dari masyarakat Cina Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Cina. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat Cina Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.

Logat Cina Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, “Mau ke mana”, misalnya, kata “na” diucapkan lebih panjang sehingga terdengar “mau kemanaaaa”.

Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat Cina Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan, umumnya diwarnai tari cokek yang sebenarnya merupakan budaya tayub masyarakat Sunda pesisir seperti Indramayu.

Meski demikian, masyarakat Cina Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan “Meja Abu” di setiap rumah orang Cina Benteng.

“Tidak usah dipertentangkan. Realitasnya, masyarakat Cina Benteng memang sudah berakulturasi dengan lingkungan lokal, tapi mereka juga masih memegang adat istiadat kepercayaan nenek moyang dan leluhur mereka,” kata Eddy.

Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Pek Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).

Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua. “Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga Cina Benteng pada saat bertemu dengan orang lain,” kata Asiuntapura Markum (55) yang lahir di Tangerang.

Yang khas dari masyarakat Cina Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya Cina dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, kata Eddy, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi Cina-Betawi yang tampak pada kembang goyang.

SECARA ekonomi, masyarakat tradisional Cina Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil.

Ny Kenny atau Lim Keng Nio (48) yang tinggal di Gang Cilangkap RT 03 RW 02, Kelurahan Sukasari, Tangerang, misalnya, setiap hari harus bangun pagi-pagi untuk membawa dagangan kue ke pasar. Ong Gian, petani sawah di Neglasari yang nyambi menjadi pemain musik gambang kromong, juga harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan hidup.

Fenomena Cina Benteng, kata Eddy, merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan Cina dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan Cina Benteng seakan menegaskan bahwa tidak semua orang Cina memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi. Dengan keluguannya, mereka bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

David Kwa lebih melihat fenomena Cina Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat Cina Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini membuat David yakin, persoalan sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik.

Realitas Cina Benteng yang tinggal di pusat kekuasaan politik dan ekonomi menunjukkan, masyarakat etnis Cina sesungguhnya sama dengan etnis lainnya. Ada yang punya banyak uang, tetapi ada pula yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bahkan, Ridwan Saidi, pengamat budaya dari Betawi, melihat realitas Cina Benteng sebagai wajah lain Indonesia. Ada yang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin.
Bagi mereka, wajar kalau perayaan Tahun Baru Imlek menjadi pengharapan agar rezeki di tahun baru ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Wajar pula bahwa meski sudah berakulturasi begitu dalam, mereka tetap membeli bunga sedap malam dan bersembahyang di kelenteng-kelenteng.

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.