Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Berita’ Category

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.

Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut – suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

Perayaan Cap Go Meh di Jakarta Barat

Jakarta (ANTARA News) – Komunitas keturunan Tionghoa di Jakarta merayakan Cap Go Meh, hari ke-15 atau hari terakhir masa perayaan Imlek, dengan mengarak patung Toa Pe Kong menyusuri jalanan di kawasan Glodok, Jakarta Barat, pada Minggu siang.

Peserta arak-arakan yang antara lain terdiri atas pengusung aneka patung dewa, pemain liong, pemain barongsai, penabuh tambur dan penabuh beduk memulai pawai dari Vihara Dharma Jaya Toasebio di kawasan Petak Sembilan, melalui gang-gang sempit menuju ke Asemka terus ke Toko Tiga, Stasiun Kota Tua, dan Jalan Hayam Wuruk.

Dua Ondel-Ondel dan sekelompok pemain musik yang mengenakan pakaian adat Betawi juga ikut memeriahkan pawai yang berakhir di kawasan Petak Sembilan tersebut.

Warga keturunan Tinghoa berdiri berjejal di sepanjang jalanan yang dilewati arak-arakan untuk memberikan penghormatan kepada patung-patung dewa yang diarak dan menyentuhnya supaya mendapatkan berkah atau sekedar menyaksikan atraksi pemain liong dan barongsai yang bergerak lincah dengan iringan tabuhan beduk dan tambur.

Sebagian warga peranakan Tionghoa menyelipkan angpau, amplop merah berisi uang, ke mulut liong dan barongsai.

Bagi sebagian warga peranakan Tionghoa seperti Stella Ling Ling, Cap Go Meh merupakan tradisi nenek moyang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan.

“Saya Katholik, ikut ini hanya sebagai bagian tradisi saja. Di kuil kadang kita ikut bakar hio, tuang minyak dan berdoa, tapi doanya tetap kepada Tuhan,” kata Ling Ling yang datang ke Vihara Toasebio dan menyaksikan arak-arakan bersama suami dan sahabatnya.

Warga bukan keturunan Tionghoa pun ikut memadati jalan untuk menyaksikan arak-arakan tersebut.

Mereka berdiri memadati pinggiran jalur jalan di kawasan Glodok sampai halte bus TransJakarta di Olimo, membuat bus-bus TransJakarta dan angkutan umum yang tidak bisa melintasi jalanan selama beberapa waktu.

Jembatan penyeberangan juga penuh dengan orang yang ingin menyaksikan dan mengabadikan arak-arakan panjang yang meriah dengan dominasi warna merah tersebut. (M035/A038)

Advertisements

Read Full Post »

Didi Syafirdi – detikNews

Jakarta – Menyambut Hari Raya Tahun Baru Cina atau Imlek barongsai sepanjang 100 meter disiapkan. Barongsai raksaksa ini akan diarak oleh 300 orang siswa dari Trinity International School menuju Central Park, Jakarta Barat.

“Barongsai dibawa besok pukul 15.00 WIB dari depan sekolah menuju Central Park,” ujar Pemilik Yayasan Trinity International School, Paulina Hartana, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (11/2/2010).

Ide awal menciptakan barongsai dari 7.668 botol air mineral dengan tinggi 3,68 meter itu, diakui oleh Paulina, karena dirinya sering melihat murid-murid di Trinity yang membawa minum. Namun, setelah habis botolnya langsung dibuang begitu saja.

“Dari situ terlintas untuk mendaur ulang botol-botol ini,” ungkapnya.

Pembuatan Barongsai ini juga tidak memakan waktu lama hanya satu minggu, dibantu oleh 15 orang kru. Paulina sengaja memilih membuat barongasi karena beberapa hari lagi Imlek.

“Karena mau Imlek makanya terfikir membuat barongasi,” ungkapnya.

Barongsai ini menurut Paulina, merupakan yang terpanjang di Indonesia. Umumnya barongsai pada hari Imlek hanya 3-4 meter. “Barongasi ini masuk dalam rekor MURI, sebagai barongasai terpanjang” tandasnya.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/02/11/201237/1297956/10/sambut-imlek-barongsai-sepanjang-100-meter-disiapkan

Read Full Post »

Jakarta memiliki seratus lebih kelenteng. Salah satunya kelenteng tua Jin De Yuan di kawasan Pecinan Lama, Glodok, Jakarta Barat. Kelenteng ini dibangun tahun 1650 oleh seorang Luitnant Tionghoa bernama Kwee Hoen dan menamakannya Koan lm Teng atau berarti Paviliun Koan lm.

Tahun 1755, kelenteng ini dipugar Kapitein Oei Tjhie dan diberi nama Kim Tek Ie atau Kelenteng Kebajikan Emas. Kim Tek Ie berdiri di atas tanah seluas 3000 meter persegi. Termasuk bara besar atau Tay Bio karena memliki beberapa bangunan. Kini kelenteng yang masih berdiri kokoh ini, bernama Wihara Dharma Bhakti, namun orang lebih sering menyebutnya Petak Sembilan.

Kelenteng Petak Sembilan dikelilingi tembok. Pintu utamanya berada di selatan yang berupa gapura naga merah. Sebelah kiri gerbang ada tiga bangunan kelenteng yang berderet. Di halaman kedua terdapat kelenteng utama menghadap ke selatan berikut dua singa (Bao Gu Shi) yang konon berasal dari Provinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan.

Gedung utama Petak Sembilan didominasi warna merah. Atap bangunannya melengkung ke atas, berhias sepasang naga. Di dalam ruangannya terdapat puluhan film berukuran besar, setinggi badan orang dewasa dan ratusan lilin-lilin kecil yang menyala. Bau asap dupa bertebaran menebarkan aroma khas hingga ke luar ruangan. Di bagian samping kiri gedung utama terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Sedangkan di pojok kanan halaman belakang terdapat sebuah lonceng buatan tahun 1825 yang merapakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Menjelang perayaan Imlek, biasanya para petugas di kelenteng ini sibuk membersikan dan mengecat ulang pagar besi dengan cat berwarna merah. Kelenteng ini tak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Banyak pula para peziarah dan wisatawan yang datang sambil melihat aktivitas ritual pengunjungnya. Keindahan dan kekhasan kelenteng ini, juga kerap dijadikan obyek pemotretan para penggemar fotograpi dan juga lokasi syuting video musik.

Pernak-pernik Khas

Selain kelenteng, kemeriahan menjelang imlek sangat terasa kalau kita berada di Pasar Petak Sembilan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Terlebih 10 hari menjelang Imlek Banyak warga keturunan Tionghoa dari berbagai pelosok Jakarta datang ke pasar ini untuk membeli perlengkapan khas dalam merayakan datangnya Tahun Baru Cina.

Menjelang Imlek, sejumlah penganan dan pernak-pernik khas imlek laku keras. Kue keranjang berupa dodol khas China yang dibungkus daun atau plastik, banyak diburu pembeli. Apalagi penjualnya mengemas kue keranjang dengan kardus-kardsus cantik berwarna merah. Kue keranjang banyak diburu pembeli karena selain untuk dimakan sendiri dan diantar ke sanak keluarga juga untuk sembahyang.

Aneka manisan kering seperti kana, buah plum dan kulit jeruk yang dimaniskan juga banyak dijual di pasar ini. Ada yang belum dikemas ada juga yang sudah dalam kemasan kardus yang disekat. Makanan yang berasa manis seperti manisan dan permen memang juga dicari pembeli. Masyarakat Tionghoa menganggapnya sebagai perlambang hidup yang manis. Oleh karena itu kedua camilan ringan itu kerap disuguhkan saat merayakan Imlek agar tahun baru membawa kemanisan.

Buah-buahan khas imlek juga menjadi incaran pembeli, seperti jeruk, leci dan buah plum. Aneka jeruk terutama jeruk mandarin, Io dan juga jeruk Bali banyak diborong pembeli. Jeruk dianggap warga Tionghoa sebagai buah yang melambangkan persaudaraan dan kerukunan.

Berada di Pasar Petak Sembilan terlebih menjelang imlek, di antara kerumunan penjual dan pembeli, jelas memberikan nuansa tersendiri. Pasar ini menghadirkan atmosfir yang berbeda dibanding pasar tradisional lain. Deretan lampion dan pernak-pernik khas imlek lain yang berwarna merah yang dijajakan pedagang di sisi kiri kanan jalan, seakan membawa kita berada di salah satu sudut keramaian di negeri China.

Sumber: Majalah Travel Club

Read Full Post »

He Wenjun. Seorang seniman China telah dinyatakan sebagai pemegang rekor dunia karena menciptakan kuas terbesar di dunia.

Dia menggunakan 12ft besar, £ 115 kuas untuk menciptakan kaligrafi tradisional di pameran khusus di Nanchong, Cina selatan.

Wenjun mengatakan ia membuatnya sendiri dengan menggunakan sikat rambut dari 300 ekor kuda – dan kuas ini dapat menyerap cukup tinta untuk menambahkan lebih dari £ 100 untuk berat kuas.


”Saya sangat bangga menjadi pemegang rekor Guinness baru, “katanya.

“Butuh waktu setahun untuk membuat sikat ini, dan hampir satu tahun lagi untuk belajar bagaimana mengendalikannya.”. lanjutnya.

Karya yang cukup luar biasa yach….

sumber : http://kagakribet.com/fun.php/aqlb5w6q21NL/-Kuas-Raksasa-Di-China-Bikin-Rekor-Dunia

Read Full Post »

Aksi Chen Xiang ini jangan ditiru, karena bisa menyebabkan kebutaan. Chen Xiang, warga Provinsi Hunan, membuat kaligrafi Cina dengan kuas yang dikepit di matanya. Kuas yang dipakainya sepanjang 1,65 meter dengan berat 2 kg sebelum dicelupkan ke tinta. Bila dicelupkan ke tinta, kuas itu menjadi berberat 10 kg. Nah bisa anda bayangkan, betapa kuatnya kepitan mata Chen Xiang untuk menggerakkan kuas seberat 10 kg. Bagi kita tentu terasa mustahil, tapi bagi Chen Xiang mudah saja!

****

CHINA yang berpenduduk 1 miliar lebih menyimpan potensi besar untuk memasukkan prestasi banyak warganya dalam Guinness Book of Record. Sejauh ini telah cukup banyak warga China yang namanya tercatat di Guinness World Record. Yang menarik beberapa dari rekor-rekor itu tergolong ‘ekstrem’ bahkan berbahaya.

Lihat saja rekor yang diukir lelaki asal Propinsi Hunan, Chen Xiang, yang tercatat sebagai pemegang dua rekor dunia. Salah satunya adalah kemampuan Chen Xiang menulis kaligrafi Cina dengan kuas yang dikepitkan di matanya. Sepertinya tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi.

Pertama-tama Xiang menggepitkan semacam alat ke matanya. Alat itulah yang menghubungkan dengan kuas yang akan dipakainya dalam membuat kaligrafi. Setelah alat dan kuas terhubung, Xiang pun ‘memainkannya’ membentuk kata. Bahkan dengan kepitan bola matanya dia dapat bermain piano.

Salah satu rekornya yang mendapat liputan secara luas adalah membuat kaligrafi dengan mata. Asal tahu saja kuas yang dipakainya itu memiliki panjang 1,65 meter dengan berat 2 kg sebelum dicelupkan ke tinta. Bila dicelupkan ke tinta, kuas itu bisa beberat sekitar 10 kg.

Bayangkan! Kepitan mata Xiang cukup kuat untuk menggerakkan kuas seberat 10 kg. Keluarbiasaan inilah yang dicatat Guinness Book of Record.

Xiang kepada wartawan mengatakan bahwa mungkin orang lain akan merasa tidak nyaman atau sakit bila menjepit pen pada matanya, menulis dengan kuas yang besar (dengan menjepit ke mata). Tapi dia tidak merasakan itu. Kuncinya sederhana, kata Xiang, rajin berlatih. Dia telah melatih hal tersebut dan ternyata sangat mudah menggunakan kuas besar dan menggerakkannya dengan mata.

Namun demikian setiap kali dia menyelesaikan kaligrafinya, kedua matanya akan berwarna merah dan air matanya mengucur. Ia pun sukar membuka kedua matanya. Ini tentu reaksi yang wajar dari mata Xiang. Namun ajaibnya, dalam waktu singkat, setelah dia beristirahat sejenak, radang pada bola matanya perlahan turun, dan matanya pun menjadi normal kembali.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa mata Xiang bukan hanya dapat contact dengan objek asing, tapi juga dapat menanggung beban berat?

Dokter yang melakukan cek up terhadap mata Xiang mendapati bahwa tidak terdapat perbedaan organ pada mata Xian dengan orang lain. Artinya, normal-normal saja. Akan tetapi kata dokter tersebut, sistem organ pada matanya menunjukkan lebih lambat dibanding mata orang normal.

Sebenarnya matanya menunjukkan bahwa ada kesakitan, itu terlihat dari bola matanya yang memerah dan air mata yang mengucur. Namun itu tak ditampakannya. Ia berusaha meyakinkan bahwa memiliki ‘kekuatan supernatural’, karenanya dia berusaha mengontrol rasa ketidaknyamanan itu. Dokter menyarankan agar Xiang tidak melanjutkan hal tersebut karena dapat menyebabkan infeksi bahkan kebutaan.

sumber: xin hua

Read Full Post »

Beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia menyatakan, perayaan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu menjamur berbagai model perayaan Imlek yang ditawarkan berbagai kalangan, terutama dunia perdagangan.

Sekarang pun ada banyak anggota masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat merayakan Imlek. Mereka yang tidak merayakan Imlek pun tidak terlalu dirugikan, paling tidak bisa menikmati kesempatan berlibur pada hari raya itu.

Penekanan perayaan Imlek tanpa memerhatikan konteks Indonesia akan menyebabkan irrelevansi perayaan itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya, Imlek ditekankan sebagai perayaan musim semi. Indonesia tidak mengenal adanya empat musim. Karena itu, pemasangan pernik-pernik lambang musim semi tidak akan banyak menolong penghayatan perayaan Imlek.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, penekanan secara berlebihan perayaan Imlek akan dapat meninggalkan permasalahan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.

Namun, pelarangan atau pengendalian berlebihan atas praktik perayaan Imlek di Indonesia akan merupakan langkah mundur dari usaha perwujudan nilai reformasi yang telah diperjuangkan bersama.

Daripada membuat permasalahan yang tidak perlu, akan jauh lebih bermanfaat bila bangsa Indonesia mulai mencari dan menemukan hal-hal penting dan layak untuk dirayakan bersama pada setiap hari libur nasional yang dimiliki, termasuk makna spiritual Imlek.

Pada gilirannya, demi kepentingan bersama, perkembangan perayaan Imlek perlu dicermati bersama. Pertanyaannya, perayaan Imlek macam apa yang perlu dikembangkan bangsa Indonesia? Ini menjadi relevan untuk dijawab.

Makna spiritual Imlek

Perayaan Imlek yang dirayakan oleh berbagai bangsa (China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya) selama berabad-abad menyediakan makna spiritual yang amat kaya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan mereka dalam semangat hidup yang sama.

Mengingat Imlek bukan perayaan keagamaan, maka “makna spiritual” perayaan Imlek tidak pertama-tama digali dalam ajaran agama tertentu. Semula, Imlek merupakan perayaan petani. Makna spiritual Imlek perlu digali dari pengalaman kehidupan dan dunia makna yang berkembang di antara kaum petani. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang
bukan dari golongan petani. Karena itu, tidaklah mencukupi pemaknaan spiritual Imlek hanya dibatasi dari dunia pertanian.

Beberapa makna spiritual yang pantas dikedepankan, antara lain:

Pertama, kasih sebagai faktor pemersatu kehidupan. Imlek memperlihatkan pengalaman perjumpaan para petani dengan realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi petani, realitas di dunia ini disatukan, disemangati, ditumbuhkan oleh kasih. Karena itu, mereka menemukan dan menggunakan berbagai macam barang, tanaman, atau binatang yang ada di lingkungan mereka untuk menunjukkan pengalaman kasih yang menghidupkan itu. Mereka mengungkapkan harapan kehidupan yang lebih berkualitas dengan menggunakan obyek-obyek itu. Misalnya, ikan dipandang sebagai lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan. Dengan memasang gambar ikan atau memakan ikan, mereka mengharap datangnya kelimpahan itu.

Kedua, Imlek merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan dan terbagikan kepada sesama. Bagi petani, kasih yang membahagiakan itu mereka terima dari kemurahan alam. Karena itu, mereka pun harus belajar bermurah hati kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu layak untuk dinikmati dalam kebersamaan dengan yang lain, dalam semangat solider kepada sesama, terutama yang lemah, miskin, dan papa.
Warna dasar perayaan Imlek adalah merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup. Sebagaimana darah dalam nadi, pengalaman hidup yang penuh semangat dan membahagiakan itu harus mengalir dan meresapi berbagai bagian tubuh untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam perayaan Imlek, dibagikan kepada anak-anak, orang-orang miskin, sederhana, dan papa, hal-hal yang dapat membahagiakan mereka: uang, makanan, hadiah, atau berbagai bentuk bantuan lain. Dengan berbagi kebahagiaan, kasih yang berlimpah itu diharapkan dapat semakin merasuki berbagai sektor kehidupan mereka dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan lebih besar lagi.

Ketiga, pengalaman kasih dimulai di keluarga. Inti kasih itu tidak terletak dalam banyaknya kata-kata, tetapi dalam tindakan untuk saling memberikan diri kepada subyek yang dikasihi. Kemampuan mengasihi seperti ini disadari oleh para petani dan nonpetani, berawal di dalam keluarga. Pusat perayaan Imlek terletak pada kesediaan seluruh anggota keluarga untuk berkumpul bersama, meninggalkan kepentingan diri, dan berbagi pengalaman kasih dalam keluarga. Puncak perayaan itu diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, saling menghormati, bercerita pengalaman hidup yang membahagiakan, mengampuni, berbagi rezeki, menyampaikan salam berupa doa atau harapan untuk hidup lebih baik, dan sebagainya.

Keempat, Imlek adalah perayaan kebebasan yang inklusif. Kesederhanaan alam pikiran petani tidak banyak memberi tempat pada rumitnya aturan yang harus ditaati. Pada dasarnya Imlek tidak memiliki aturan baku. Seandainya ada, peraturan itu amat umum, tidak menyertakan hukuman bagi pelanggarnya. Dengan demikian, dunia tidak mengenal adanya model tunggal perayaan Imlek. Setiap pribadi, keluarga, atau kelompok masyarakat apa pun, diizinkan merayakan Imlek dengan segala kemampuan, keterbatasan, latar belakang, simbol, dan sistem pemaknaan masing-masing. Kebebasan seperti ini menjadikan Imlek perayaan yang inklusif karena tidak mengeliminasi siapa pun untuk tidak diizinkan merayakannya.

Disesuaikan kondisi bangsa
Perayaan Imlek yang terlalu mengedepankan sisi glamor dan konsumerisme, mengkhianati makna spiritual yang dijunjung tinggi dalam perayaan Imlek dan akan melukai perasaan banyak orang yang masih hidup dalam kemiskinan. Perayaan semacam itu akan berujung pada eksklusivisme, bukan inklusivitas. Penjiplakan perayaan Imlek dari bangsa lain tanpa memerhatikan suasana batin dan kerohanian yang ada di Indonesia, pada gilirannya dapat menjadi bumerang bagi perkembangan bangsa Indonesia.

Sebaliknya, pengaturan ketat terhadap praktik perayaan Imlek atau penekanan satu model Imlek sebagai warisan kebudayaan bangsa tertentu sama-sama mengkhianati nilai kebebasan yang inklusif yang ditawarkan oleh Imlek.

Pemahaman mendalam terhadap kekayaan makna spiritual yang terkandung dalam perayaan Imlek diharapkan mampu memberi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk dapat menemukan sendiri model perayaan Imlek yang sesuai nilai-nilai kasih dan kehidupan yang dihayati bangsa Indonesia.
Penemuan model perayaan Imlek yang lebih sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia merupakan pekerjaan bersama yang pantas untuk segera dimulai.

Semoga hari libur nasional Imlek juga dapat menjadi saat yang reflektif dan kreatif bagi penemuan langkah penyelesaian krisis bangsa Indonesia yang sudah berlangsung lama. Gong xi xin nian. Wan shi ru yi.

P Agung Wijayanto-Pengajar Agama dan Kebudayaan Timur Program Studi S2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
sumber: KOMPAS – Sabtu, 17 Februari 2007

Read Full Post »

Tembok Raksasa Cina atau Tembok Besar Cina (Hanzi tradisional: 長城; Hanzi sederhana: 长城; pinyin: Chángchéng), juga dikenal di Cina dengan nama Tembok Raksasa Sepanjang 10.000 Li (萬里長城; 万里长城; Wànlĭ Chángchéng) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia, terletak di Republik Rakyat Cina. Panjangnya adalah 6.400 kilometer (dari kawasan Sanhai Pass di timur hingga Lop Nur di sebelah barat) dan tingginya 8 meter dengan tujuan untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu. Lebar bagian atasnya 5 m, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 m. Setiap 180-270 m dibuat semacam menara pengintai. Tinggi menara pengintai tersebut 11-12 m.

Untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.

Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Tiongkok.

Tembok Raksasa Cina dianggap sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Pada tahun 1987, bangunan ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Apakah Tembok Cina Terlihat dari Angkasa?

Selama ini telah tertanam dalam pikiran kita bahwa Tembok Cina adalah satu-satunya objek buatan manusia yang terlihat dari luar angkasa. Sedangkan bangunan-bangunan raksasa lainnya tidak pernah disebut tampak dari angkasa. Selama beberapa dekade, Cina selalu mengklaim bahwa peninggalan sejarah yang amat terkenal itu bisa terlihat dari angkasa luar. Namun mitos tersebut mulai diragukan setelah Yang Liwei pulang dari perjalanan ke angkasa luar selama 21,5 jam tahun lalu. Waktu itu Liwei menyatakan dirinya tidak bisa melihat tembok besar Cina dari wahananya, Shenzhou V. Alasannya, tembok itu tidak terlalu lebar dan bahan pembuatnya adalah material yang berwarna seperti lingkungan sekitarnya, sehingga sangat tersamar. Kenyataan itu justru diberitakan oleh astronot Cina pertama, Yang Liwei yang kembali dari angkasa sebagai pahlawan setelah menyelesaikan suatu perjalanan bersejarah yang sejak lama diimpikan Cina, yakni menjadi salah satu negara penakluk ruang angkasa. Yang Liwei menyatakan dengan jelas dalam wawancara televisi, “Saya tidak melihat Tembok Besar Cina dari angkasa, namun bumi terlihat sangat indah.”

Berita itu diperkuat oleh situs National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang menyebutkan beberapa objek memang bisa dilihat dari ruang angkasa tanpa bantuan teropong atau teleskop, namun tembok besar Cina tidak termasuk objek-objek tersebut. Memang membingungkan. Padahal seperti yang kita ketahui, banyak konstruksi buatan manusia yang bisa dilihat dari orbit bumi. Contohnya, para astronot yang berada di pesawat ulang alik bisa melihat jalan raya, bendungan, bahkan kendaraan besar seperti truk, dari tempat setinggi 217 km di atas bumi. Dari stasiun ruang angkasa internasional (International Space Station) yang mengelilingi bumi pada ketinggian sekitar 400 km, kota-kota bahkan masih bisa dibedakan dari tanah-tanah pedesaan di sekitarnya.

Ed Lu, anggota Expedition Seven yang berada di stasiun itu menyatakan bahwa Anda bisa melihat piramid dari sana, apalagi bila menggunakan teropong binocular. Piramid-piramid di Mesir telah difoto berkali-kali dari angkasa luar menggunakan kamera-kamera digital standar dengan lensa-lensa kuat. Menggunakan alat-alat itu, piramid terbesar di Giza yang lebarnya 227 meter dan tingginya 137 meter terlihat sangat jelas. Tapi bagaimana dengan tembok besar Cina?

“Anda bisa melihat Tembok Cina,” kata Lu. “Tapi bangunan itu tidak begitu jelas terlihat dibanding bangunan besar lain seperti piramid, dan Anda harus tahu dimana melihatnya,” begitu yang dikutip dari emailnya.

Kenyataannya beberapa bagian Tembok Cina tidak tampak pula walau dilihat dari Cina. Bagian-bagian itu terkubur pasir selama berabad-abad. NASA telah menggunakan radar angkasa untuk memetakan bagian tersembunyi dari struktur kuno itu. Astronot Lu juga mencoba memotret bangunan tersebut dengan kamera digitalnya.

“Namun sejauh ini cuacanya selalu tidak memungkinkan, ” ceritanya. “Pasti ada awan dan kabut di sekitar wilayah itu selama saya mencoba. Saya berharap bisa memotretnya sebelum kembali ke Bumi, dan membawa bukti bahwa Tembok Cina memang terlihat dari angkasa.”

Tembok Besar Cina mulai dibangun sekitar tahun 770 hingga 476 sebelum Masehi oleh dinasti Zhou. Beberapa tembok lain juga dibangun oleh pengasa kerajaan Qin, Yan dan Zhao. Tembok-tembok itu kemudian disatukan oleh Kaisar Pertama Qin Shi Huang setelah ia mempersatukan Cina pada tahun 214 sebelum Masehi.

Selanjutnya pada masa dinasti Han, Kaisar Han Wu Di memerintahkan perluasan tembok guna mencegah serangan dari suku-suku di utara Cina. Waktu terus berlalu, dan perkuatan dan perluasan terus dilakukan hingga jaman dinasti Ming (1368 – 1644). Ming adalah penguasa yang memperkuat tembok dengan bata dan batu granit, serta memperkokoh pondasinya. Ia mendirikan titik-titik penjagaan dan menara-menara kontrol seperti yang bisa kita lihat sekarang.

Hasil akhir dari pembangunan tembok selama beberapa generasi itu menghasilkan tembok raksasa yang membentang sekitar 6.700 kilometer, melintasi gunung dan lembah, berkelok-kelok seperti naga batu. Namun karena lebarnya hanya sekitar 5 meter dengan ketinggian rata-rata 10 meter, tembok Cina mustahil dilihat dari ruang angkasa.

Dengan adanya pemberitaan tersebut, seorang pejabat Kementerian Pendidikan yang bertanggung jawab terhadap materi pengajaran di sekolah-sekolah Cina mengatakan, penerbit buku pelajaran telah diminta untuk menghentikan pencetakan bagian yang keliru itu. Dalam buku bahasa dituliskan, “Seorang kosmonot yang menanjak ke angkasa mengatakan, ’Terbang menggunakan pesawat ruang angkasa, melihat Bumi dari sana, saya bisa melihat dua bangunan, satu adalah tanggul laut Belanda, dan lainnya adalah tembok besar Cina!’”

“Penulisan yang keliru dalam buku sekolah dasar inilah penyebab utama munculnya kesalahan konsep yang menyebar begitu luas,” tulis Beijing Times mengutip Wang Xiang, penasehat nasional urusan pendidikan.

Dalam Konferensi Konsultatif Politik di Beijing, Wang Xiang mengusulkan agar pemerintah, melalui sekolah-sekolah, menghentikan penyebaran mitos yang keliru mengenai terlihatnya tembok besar dari angkasa luar. “Mitos itu bertentangan dengan kenyataan dan akan merugikan anak didik kita,” ujar Wang.

Sumber : Everydaymandarin

Read Full Post »

Older Posts »