Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Dulu, Main Liong Takut Didatangi Petugas Koramil

Sejak 1965, segala bentuk budaya Tionghoa dibungkam Pemerintahan Orde Baru. Angin keterbukaan pada era reformasi sejak 1998 membuat budaya Tionghoa tampil lagi. Bahkan, mulai 2003 ini, Imlek dijadikan hari libur nasional. Bagaimana isi hati etnis Tionghoa Solo soal ini?

TANGGAL 1 Februari 2003 ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk menghormati Tahun Baru Imlek atau 1 cia gwee 2554. Tahun-tahun sebelumnya, pemerintah tak pernah menetapkan 1 cia gwee sebagai hari libur nasional. Penetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional yang dilakukan pemerintah mulai 2003 itu rupanya menimbulkan reaksi beragam di kalangan etnis Tionghoa Solo. Ada yang merasa senang, tapi ada juga yang memiliki perasaan biasa-biasa saja.

”Sebagai pribadi, penetapan tahun baru imlek sebagai hari libur nasional itu tidak menimbulkan perasaan yang luar biasa. Sebab, saya lahir di sini, besar juga di sini. Kalau bapak saya masih hidup, mungkin perasaannya sangat lain, mungkin saja sangat bahagia karena bapak saya lahir di Tiongkok,” ujar Willy Tandyo, salah seorang etnis Tionghoa warga Pasar Kliwon.

Kendati demikian, Willy sangat menghargai langkah pemerintah Indonesia yang kini bersedia menetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. ”Saya sangat menghargai pemerintah. Sebab, perlakukan yang diskriminatif sudah mulai dihapus,” ujar Willy.

Keterangan senada dilontarkan Joko Pranantyo, Sekjen Perkumpulan Hoo Hap (rukun gabung), sebuah Perkumpulan etnis Tionghoa di Solo, yang dihubungi secara terpisah. ”Berbahagialah warga etnis Tionghoa di Indoensia karena saat ini kita sudah dianggap sama dengan yang lainnya. Paling tidak, etnis Tionghoa sudah diperlakukan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak seperti dulu yang selalu disembunyikan.Padahal, kita ini ada,” ujar Joko yang juga dikenal dengan nama Lie Kok Ping.

Anehnya, di kalangan etnis Tionghoa yang ditemui Radar Solo, ternyata ada juga yang enggan memberikan komentar tentang perasaan pribadinya setelah Tahun Baru Ilmek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Menurut Willy Tandyo, hal itu wajar. ”Karena mereka khawatir ada jadi rerasan,” ujarnya.

Apa maksudnya jadi rerasan, Willy tak menjelaskannya.Namun, seorang tokoh tua Tionghoa yang enggan disebut namanya mengatakan, masih ada sisa-sisa trauma warga Tionghoa karena bertahun-tahun ”dibungkam” pemerintah Orde Baru. ”Dulu, menampilkan Liong untuk kelengkapan ritual di klenteng saja harus sembunyi-sembunyi. Kita takut didatangi petugas Koramil, karena memang dilarang,” ujar tokoh yang wanti-wanti tak disebutkan namanya ini.

Kini, pemberangusan terhadap kesenian dan budaya tersebut telah menjadi masa lalu. Bahkan, dalam perayaan Imlek tahun ini, enam perkumpulan etnis Tionghoa di Solo bergabung membentuk panitia khusus untuk memperingati Imlek secara terbuka. Di antaranya menampilkan tiga grup Barongsai untuk dikiriab. Keenam perkumpulan itu adalah Fu Jing, Perkumpulan Hoo Hap, Persatuan Masyarkat Surakarta (PMS), Himpunan Persaudaraan Hakka Surakarta, Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN), dan Forum Komunikasi Guru Bahasa Tionghoa (FKGBT) Solo.

”Ini merupakan ungkapan syukur kami karena perlakukan diskriminatif yang berlangsung sekitar tiga dasa warsa sudah tidak ada lagi,” ujar Adjie Chandra, salah seorang rohaniawan dari Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Solo. Selain itu, perayaan tidak dilakukan dengan acara yang bernuansa hura-hura, tetapi berupa bakti sosial berupa pengobatan massal di lima kecamatan dan pemberian santuan kepada yayasan umat agama lain.

Punya Dua Makna: Tradisi dan Ritual Keagamaan

MAKNA peringatan Tahun Baru Imlek bagi warga Tionghoa di Solo rupanya tidak seragam. Sebagian beranggapan bahwa peringatan Imlek hanya sebagai tradisi warisan leluhurnya dari Tiongkok. Namun, ada juga yang memaknainya sebagai peringatan hari keagamaan Konghucu. Mengapa demikian?

SEORANG pengamat budaya Tionghoa dari Himpunan Perkumpulan Hakka Surakarta, Iswahyudya, pernah menegaskan, perayaan Tahun Baru Imlek bukan sebagai perayaan hari keagamaan. Alasannya, perayaan Imlek itu sudah ada sebelum kalender Imlek yang dipakai saat Ini ditetapkan sebagai penanggalan resmi. Sekretaris Perkumpulan Hoo Hap Solo Joko Pranantyo juga beranggapan demikian. ”Perayaan Tahun Baru Imlek itu tidak lebih sekedar tradisi para leluhur dari Tiongkok. Konon, perayaan ini adalah untuk menyambut datangnya musim semi saatnya para petani di Tiongkok mulai bercocok tanam,” katanya.

Keterangan serupa juga dipaparkan Willy Tandyo, salah seorang etnis Tionghoa warga Pasar Kliwon. ”Bagi saya, perayaan tahun baru Imlek itu hanya sebagai tradisi.”

Sementara Adjie Chandra, salah seorang rohaniawan dari Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Solo, punya pandangan lain. Menurut dia, perayaan datangnya Tahun Baru Imlek merupakan bagian dari peringatan keagamaan, Konghucu. Adjie mengakui bahwa munculnya perbedaan makna peryaan Tahun Baru Imlek tersebut tidak lepas dari sejarah lahirnya kalender Imlek sendiri.

Adjie mengakui bahwa penanggalan Imlek memang cukup unik. Penanggalan Imlek awalnya berdasarkan perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi (lunarcalender) yang sudah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Namun, penanggalan imlek juga memperhitungkan peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender). Karena itu, dalam kalender Imlek terjadi penyesuaian melalui mekanisme ‘Lun Gwee’ (bulan ulang). Yakni penyisipan dua bulan tambahan yang dilakukan setiap lima tahun.

Menurut catatan sejarah, penanggalan Imlek di Tiongkok sudah dimulai sejak 2637 SM (sebelum masehi), yakni semasa Kaisar Oet Tee/Huang Ti (2698-2598 SM). Namun, setiap terjadi pergantian dinasti, sistem penanggalan yang dipakai juga sering berganti. Penanggalan Dinasti Ke/Hsia (2205-1766 SM) memakai penanggalan yang dikenal dengan sebutan He Lek, yakni penanggalan berdasarkan solar yang penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Sementara Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni jatuh pada akhir musin dingin.

Namun, menurut Adjie, Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou/Chin (1122-255 SM) akhirnya memilih penanggalan Dinasti He dianggap yang paling tepat. Karena itu, Nabi Khongcu pernah bersabda: “Pakailah penanggalan Dinasti He …” Kenapa penanggalan Dinasti He dianggap paling baik? ”Pertimbangan Nabi Khongcu, karena penanggalan Dinasti He dianggap cukup baik bagi pedoman untuk mewujudkan kesejahateraan umat manusia,” jelas Adjie.

Bahkan, ketika Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama Konghucu sebagai agama negara, juga menetapkan penanggalan He Lek sebagai kalender resmi, baik masyarakat maupun pemerintahan. Sedangkan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu, yaitu 551 SM. Karena itu, penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. ”Karena penanggalan itu dihitung sejak Nabi Khongcu lahir maka tahun Imlek juga lazim disebut sebagai Khongculek,” jelas Adjie.

SUTRISNO BUDIHARTO (SUGENG TILE), Solo (RADAR SOLO, Februari 2003)

Read Full Post »

Awalnya, Sama-Sama Dikekang Eropa dan Beritanya Kering

Perayaan Imlek 2005 agak istimewa. Kenapa demikian? Perayaan tahun baru China tahun 2005 bersamaan dengan peringatan Hari Pers Nasional. Dan bila bicara tentang sejarah pers nasional Indonesia, jelas tak bisa lepas dari kiprah suku Tionghoa. Sampai sejauh manakah peran mereka dalam membangkitkan pers di Indonesia? Berikut rangkuman data sejarah dari berbagai sumber yang dikumpulkan SUTRISNO BUDIHARTO – wartawan RADAR SOLO.

MENURUT catatan sejarah, penerbitan media cetak di Indonesia sudah dimulai sejak penguasaan VOC (1619-1799), tepatnya tahun 1676. Awalnya hanya kalangan penguasa dari Eropa – terutama Belanda dan Inggris — yang diizinkan menerbitkan media cetak. Namun, kaum Tionghoa dan kalangan bumiputra (pribumi) akhirnya juga diizinkan mengelola media cetak sendiri.

Dr De Haan dalam buku “Oud Batavia” (G. Kolf Batavia 1923) mengungkap, tahun 1676 di Batavia sudah muncul sebauh terbitan berkala bernama Kort Bericht Eropa (berita singkat dari Eropa). Terbitan berkala yang memuat berbagai berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676. Setelah itu terbit Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744. Kala itu, Bataviasche Nouvelles hanya memuat berita tentang acara resepsi pejabat, pengumuman kedatangan kapal, stok barang dagangan, atau berita dukacita.

Media cetak yang berbentuk surat kabar baru muncul tahun 1800-an. Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1810. Ketika armada Inggris menaklukkan Jawa, Thomas Stamford Raffles – yang diangkat sebagai Gubenur Jenderal – juga sempat menerbitkan koran mingguan bernama Java Government Gazette pada tahun 1812. Pada tahun 1825 muncul De Locomotief di Semarang.

Pers yang melayani masyarakat pribumi baru lahir tahun 1855 di Solo dengan nama Bromomartani. Kemudian disusul Selompret Melajoe di Semarang tahun 1860. Pada era ini, di luar Jawa, juga lahir sejumlah surat kabar. Antara lain Celebes Courant dan Makassar Handelsblad di Ujungpandang, Tjahja Siang di Manado, Sumatra Courant dan Padangsch Handelsblad di Padang. Sementara di Batavia juga lahir sejumlah koran. Yang paling popular adalah Bintang Betawi. Hanya saja, koran-koran yang terbit pada masa awal sejarah pers tersebut kebanyakan dikelola kaum kolonial.

Sampai akhir abad ke-19, koran atau terbitan berkala yang dicetak di Batavia hanya memakai bahasa Belanda. Karena surat kabar di masa itu diatur oleh pihak Binnenland Bestuur (penguasa dalam negeri), kabar beritanya boleh dikata kurang seru. Yang diberitakan cuma hal-hal yang biasa dan ringan, dari aktivitas pemerintah yang monoton, kehidupan para raja, dan sultan di Jawa, sampai berita ekonomi dan kriminal.

Pers lokal baru bangkit awal 1900-an setelah kolonial Belanda mengizinkan kaum Tionghoa mengelola media cetak. Ketika Tionghoa mulai menerbitkan surat kabar, orang-orang bumiputra juga mulai belajar mengelola koran. Tahun 1900 Dr Wahidin Soedirohoesodo menangani surat kabar Retno Dhoemilah dalam dua bahasa; Jawa dan Melayu. Melalui media ini Wahidin mulai mengkampanyekan nasionalisme, pendidikan masyarakat, persamaam derajat dan budi pekerti. Hanya saja, surat kabar Retno Dhoemilah ini juga didirikan oleh orang Belanda, FL winter, dengan perusahaan penerbit milik kolonial H Bunning Co.

Indonesier Pilih Berasimilasi dan Membela Kemerdekaan

Munculnya pers Tionghoa di Jawa pada awal abad ke-20 bisa dibedakan dalam dua kelompok; yakni pers berbahasa asli Tiongkok dan pers berbahasa Melayu. Pers berbahasa Tiongkok dikelola oleh kalangan Singkek atau yang dikenal dengan sebutan China totok. Sedang pers berbahasa Melayu dikelola kalangan Tionghoa peranakan. Seperti apakah kiprah mereka dalam mendorong perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah?

MENURUT catatan Abdul Wakhid (Lembaran Sejarah, 1999), awal kemunculan industri pers milik kalangan China totok yang berbahasa asli dari Tiongkok berkaitan erat dengan Soe Po Sia – suatu organisasi perkumpulan pers revolusioner Tiongkok yang berhubungan langsung dengan Dr Sun Yat Sen — atau Siang Hwee – organisasi kamar dagang yang didominasi kalangan China totok. Namun jumlah pers yang berbahasa asli Tiongkok terbilang terbatas. Antara lain adalah Huauo Bao (Jakarta), Zhaowa Gong Bao (Semarang), dan Hanwen Xinbao (Surabaya).

Sementara pers milik Tionghoa peranakan muncul setelah timbulnya gerakan Pan-China di Jawa akibat pengaruh propaganda nasionalisme Dr Sun Yat Sen di China daratan. Namun pers milik Tionghoa peranakan tetap memakai bahasa Melayu. Sebab, mereka sudah banyak yang tak paham lagi dengan bahasa asli Tiongkok. Kebiasaan mereka juga sudah berbeda karena banyak yang menyerap dan terserap dalam budaya local pribumi.

Surat kabar milik Tionghoa pernakan yang pertama terbit adalah Li Po. Surat kabar yang dicetak di Sukabumi, Jawa Barat, itu menyebarkan ajaran Konghucu dan berkaitan dengan berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) — organisasi Pan-China pertama di Jakarta pada tahun 1900. Tak lama kemudian muncul sejumlah surat kabar lainnya, seperti Pewarta Soerabaia (Surabaya-1902), Warna Warta (Semarang-1902), Chabar Perniagaan (Jakarta-1903), Djawa Tengah (Semarang-1909), dan Sin Po (Jakarta-1910).

Dekade 1920-an, kalangan Tionghoa peranakan menerbitkan sejumlah suratkabar lagi. Antara lain Bing Seng (Jakarta-1922), Keng Po (Jakarta-1923), Sin Jit Po (Surabaya-1924), Soeara Publiek (Surabaya-1925), dan Sin Bin (Bandung-1925). Pada dekade 1930-an, surat kabar Tionghoa peranakan makin bertambah banyak akibat pengaruh perang anti-Jepang. Namun surat kabar Tionghoa peranakan tidak semuanya anti-Jepang, seperti yang ditunjukkan Mata Hari (Semarang) dan Hong Po (Jakarta).

Dari segi redaksional, susunan staf surat kabar Tionghoa peranankan semula menggunakan tenaga dari Indo – Eropa, seperti yang dilakukan Chabar Perniagaan dan Sin Po pada awal terbitnya. Dalam perkembangannya, surat kabar Tionghoa peranankan bisa mandiri. Bahkan, ada yang memberikan kesempatan kepada orang-orang bumiputra (pribumi) sebagai jurnalis atau pengelola. Hal itu ditunjukkan oleh pengelola Keng Po, Siang Po, Sin Po, Pewarta Soersbsis, Mata Hari, dan Sin Tit Po.

Namun, jika dilihat dari spectrum politis yang dipantulkan dari surat kabar Tionghoa, setidaknya bisa dibagi dalam tiga aliran; yakni Kelompok Sin Po, Kelompok Chung Hwa Hui, dan Kelompok Indonesier (orang Indonesia). Kelompok Sin Po menolak kewarganegaraan Belanda dan menghendaki tumbuhnya nasionalisme Tiongkok. Sementara Kelompok Chung Hwa Hui cenderung pro-Belanda tapi masih ingin mempertahankan identitas etnisnya. Sedang Kelompok Indonesier tetap ingin mempertahankan identitas etniknya, tapi secara politik ingin berasimilasi dengan masyarakat local dan bersedia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Publikasi Indonesia Raya pun Lewat Sin Po

Ketika kalangan intelektual bumiputra (pribumi) masih kesulitan mengelola pers secara mandiri, surat kabar milik Tionghoa awal abad ke-20 menjadi salah satu sumber dan media penting untuk mendorong pergerakan nasional Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

SIKAP Belanda terhadap pers milik yang dikelola kalangan Tionghoa awal abad ke-20 lalu cenderung lunak dan bisa dikatakan tidak mendapat represif — berupa pembredelan atau penangkapan – seperti yang dialami jurnalis pribumi. Sebab, pers Tionghoa dianggap netral. Sikap lunak Belanda ini mungkin tak lepas dari kepentingan Belanda kala itu yang ingin memanfaatkan kaum Tionghoa sebagai alat politik dan ekonomi.

Namun kalau akhirnya ada Tionghoa peranakan yang memiliki benih-benih rasa anti-Belanda seperti yang ditunjukkan Tionghoa Indonesier, hal itu juga bukan suatu keanehan. Sebab, sepak terjang orang Belanda terhadap orang Tionghoa juga berubah-ubah dan diskrimininatif. Bahkan, di Batavia pernah terjadi pembantaian massal terhadap kaum Tionghoa yang menelan korban sekitar 10 ribu jiwa.

Adalah surat kabar Sin Tit Po sebagai wakil pers Tionghoa peranakan yang bersedia menerima penuh ideologi nasionalisme Indonesia. Pengelola surat kabar — yang juga menjadi corong setengah resmi Partai Tionghoa Indonesia (PTI) ini — menganggap Indonesia sebagai tanah airnya dan bersedia berjuang untuk kemerdekaan. Mereka juga merasa, nasibnya telah terikat dengan nasib orang Indonesia pribumi. Tak aneh jika Sin Tit Po ikut menyebarkan ide-ide nasionalisme Indonesia.

Lantas bagaimana dengan surat kabar Tionghoa yang pro-nasionalisme Tiongkok? Menurut Abdul Wakhid, meskipun surat kabar Sin Po berhaluan ke nasionalisme Tiongkok, bukan berarti mereka mengabaikan perjuangan nasional Indonesia. Apalagi, kelompok Sin Po juga menolak kewarganegaraan Belanda. Mereka tetap menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia. Pemberitaann Sin Po tidak mengabaikan peristiwa-peristiwa penting di Indonesia hingga bisa memberikan kesadaran dan inspirasi bagi perjuangan. Dalam beberepa periode, Sin Po banyak memakai wartawan bumiputra dan banyak memuat berita pergerakan. WR Supratman juga tercatat sebagai wartawan Sin Po. Melalui Sin Po juga lagu Indonesia Raya gubahan WR Supratman — yang menjadi lagu kebangsaan Indonesia – pertama kali dipublikasikan. Sementara Ir Soekarno juga dikenal dekat dengan Sin Po.

Pendek kata, hubungan pers Tionghoa dengan nasionalisme Indonesia dapat dilihat melalui fungsi-fungsi yang dijalankan pers. Menurut Nio Joe Lan, fungsi pers bukan sekadar memberikan informasi dan penyuluhan, tapi juga memberikan pendidikan masyarakat. Dari segi penyajian, bahasa yang diapakai pers Tionghoa peranakan adalah bahasa Melayu, sehingga secara tak langsung juga memasyarakatkan bahasa Melayu yang ketika itu sedang dikampnayekan sebagai bahasa persatuan di Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Fungsi-fungsi pers sebagai media informasi dan pendidikan perjaungan ini, paling tidak juga ikut andil dalam menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia kala itu.

Majalah Boedi Oetomo Awalnya Milik Tan Tjoe Kwan

Ancaman pembredelan dan tekanan represif Belanda merupakan hambatan berat bagi kalangan bumiputra dalam mengelola surat kabar yang independen untuk mengobarkan api perjuangan. Untungnya, pengelola surat kabar Tionghoa peranakan bersikap terbuka dan memberikan tempat bagi kaum pribumi untuk belajar.

Sejak pertengahan abad ke-19, pemerintah Belanda memang terkesan sudah bersikap terbuka kepada kepada warga pribumi dalam mengelola media cetak. Setidaknya, hal itu bisa diketahui ketika pujangga Keraton Surakarta, RNg Ranggawarsita (1802-1873), dilibatkan dalam penerbitan bulettin Bromomartani yang dipimpin CF Winter. Namun isi Bromomartani hanya memuat berita-berita perdagangan dan artikel-artikel berbahasa Jawa. Ketika Bromomartani memuat artikel yang menyerang pemerintah Belanda, Residen Surakarta Hendrik Mac Gilavry marah. Setelah itu, RNg Ranggawarsita mundur dari Bromomartani (atau dipaksa mundur?). Ironisnya, taklama kemudian –tepatnya tahun 1873 — Ranggawarsita wafat dengan meninggalkan misteri.

Pada tahun 1900, jurnalis pribumi di Surakarta R Dirjatmojo juga diangkat menjadi editor Djawi Kanda yang diterbitkan Albert Rusche & Co. Sementara Dr Wahidin Sudirohusodo menjadi redaktur jurnal berbahasa Jawa Retnodhoemilah yang diterbitkan Firma H Burning milik kolonial. Hanya saja, media cetak yang masih berbau campur tangan kolonial tetap dianggap bukan termasuk pers nasional oleh Subagio IN -pengamat sejarah pers nasional yang juga mantan wartwan Antara.

Menurut Subagio, pers nasional adalah pers yang dikelola secara mandiri oleh kaum pribumi. Sedang koran pertama yang dianggap sebagai pers nasional pertama adalah Medan Prijaji yang terbit di Bandung tahun 1907 dari hasil kerjasama antara Haji Samanhudi (Wirjowikoro) dan Raden Mas Tirtohadisoerjo. Koran inilah yang dikenal paling lugas memprotes kolonialisme dan faham-faham kolot.

Lantas bagaimana dengan pers pribumi lainnya? Terbitnya pers pribumi lainnya – baik koran atau majalah – awalnya tidak sedikit yang berangkat dengan menggunakan fasilitas milik kaum Tionghoa. Majalah Darmo Kondo tahun 1910 yang diterbitkan milik organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo, awalnya dimiliki dan dicetak oleh Tan Tjoe Kwan. Sedang redaksinya dipimpin oleh Tjhie Siang Ling yang mahir sastra Jawa (Lembaran Sejarah UGM, 1999).

Sebelum Medan Prijaji terbit, menurut catatatan hidayatullah.com, Samanhudi (1868-1956) juga pernah memimpin media cetak Taman Pewarta. Berdasar catatan Benny Juwono, Taman Pewarta yang terbit di Surakarta itu konon juga dicetak Shie Dian Ho-sebuah penerbit milik Tionghoa Solo. Beberapa surat kabar lain yang modalnya diperoleh dari hasil kerjasama dengan Tionghoa antara lain adalah Warna Warta (Semarang), Slompret Melajoe (Semarang), dan beberapa surat kabar di Sumatra serta Kalimantan.

Sementara perkembangan pers milik Tionghoa sendiri, sampai tahun 1940-an, mengalami perkembangan pesat dengan olpah cukup besar. Sin Po misalnya, mampu menembus 25.000. Meski secara umum pers Tionghoa dianggap tidak berbahaya oleh penguasa Belanda, ada juga yang terkena delik pers. Seperti yang dialami Liem Koen Hian dari Keng Po yang dikenai denda karena dianggap menghina Landraad. Ketika Belanda menyingkir dan Jepang menguasai Jawa 1942, penerbitan pers banyak ditutup. Hiruk pikuk pers perjuangan jadi kendor luar biasa. Jurnalis Tionghoa ada yang ditangkapi dan baru dilepas tahun 1945 ketika Jepang menyerah dan keluar dari Indonesia.

Masih Sensitif Terhadap Masalah Politis

Sejarah pers milik Tionghoa di Indonesia – baik yang berbahasa Melayu atau berbahasa Tiongkok – hanya bertahan sekitar setengah abad. Namun, keberadaannya dinilai memiliki makna cukup penting bagi kaum Tionghoa sendiri maupun bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Perkembangan pers milik Tionghoa tahun 1940-an memang sempat mengalami perkembangan pesat dan mampu menembus olpah cukup besar. Hal itu tak lepas dari dukungan kelengkapan sarana produksi yang mereka miliki, seperti percetakan sendiri dan dukungan finansial yang kuat. Hanya saja, ketika Jepang mengambil-alih kekuasaan di Indonesia, keberadaan pers Tionghoa seperti tenggelam akibat tekanan represif. Jurnalis Tionghoa ada yang ditangkapi dan baru dilepas tahun 1945 ketika Jepang menyerah dan keluar dari Indonesia.

Meski berusia pendek, Abdul Wakhid beranggapan, keberadaan pers Tionghoa tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan masyarakat dan sejarah pers di Indonesia. ”Pertumbuhan pers Tionghoa yang bersamaan dengan bangkitnya semangat nasionalisme dan pergerakan boleh jadi membiaskan pengaruh postif dan negatif bagi perkembangan nasionalisme Indonesia. Namun demikian, melalui pemahaman yang terbuka dan bijaksana, keberadaan pers Tionghoa kala itu memberikan nilai manfaat yang positif bagi perkembangan nasionalisme bangsa Indonesia,” papar Abdul Wakhid seperti yang diuraikan dalam Lembaran Sejarah UGM, 1999.

Lantas, apa yang diperbuat kaum Tionghoa setelah Indonesia merdeka? Kalau menyimak catatan Leo Suryadinata berjudul Pemikiran Politik Minoritas Tionghoa di Indonesia, sikap kaum Tionghoa Indonesia sekitar proklamasi lalu sebenarnya tidak a-politik, meski terdapat perbedaan di antara mereka. Bahkan, beberapa tokoh Tionghoa harus keluar masuk pernjara seperti yang dialami kaum pegerakan nasional Indonseia lainnya.

Siauw Giok Tjhan — salah satu tokoh Tionghoa Indonesia yang pernah menjadi menteri setelah proklamasi dan utusan Indonesia pertemuan Inter Asian Conference pertama di New Delhi-India pada tahun 1947 — paling tidak juga berani meunjukkan sikap politiknya.

Hanya saja, selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru lalu, kaum Tionghoa terkesan sangat sensitif jika diajak ngobrol masalah politis. Ironisnya, untuk merayakan tahun baru Imlek saja sampai tidak boleh oleh penguasa Orde Baru. Praktis, kalangan Tionghoa Indonesia terkesan hanya berkutat pada masalah ekonomi dan perdagangan. Tak aneh, ketika proses reformasi bergulir dan kaum Tionghoa bisa merayakan tahun baru Imlek secara terbuka lagi, ada yang mengaku lega.

Namun, pemberitaan pers Tionghoa yang muncul pasca-Orde Baru ini, menurut Agus Sudibyo — peneliti Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta — tetap lunak. Dicontohkan Agus, berita-berita politik Suara Baru misalnya, sempat memicu keberatan dari kalangan Tionghoa. Mereka khawatir sikap “frontal” Suara Baru pada beberapa kasus dapat memancing reaksi-reaksi negatif tertentu. Mereka merasa lebih nyaman jika Suara Baru mengangkat masalah-masalah budaya dan tidak ikut-ikutan berbicara soal politik. Kenapa demikian? Apakah ini merupakan sisa trauma politik diskriminatif Orde Baru atau masa kolonial lalu? Mungkin hanya rasa bijaksana yang dapat memberikan jawaban tepat. Yang jelas, menurut UUD, hak semua warga negara adalah sama.

(SUTRISNO BUDIHARTO/pernah dimuat di RADAR SOLO-JAWA POS 15 Februari 2005)

Read Full Post »

Orang Tionghoa selalu menyebut dirinya sebagai generasi Naga. Sebutan itu konon berasal dari dongeng dan totem zaman dahulu kala.

Konon, sebelum Huang Di berhasil menyatukan bagian tengah Tiongkok, totemnya adalah beruang. Setelah mengalahkan Chiyou dan menyatukan Tiongkok, Huang Di mengambil keputusan untuk melepaskan totem lama dan mulai menyembah totem baru, yaitu totem naga, yang terdiri dari bagian kepala totem beruang dan badan ular. Padahal, totem naga merupakan kombinasi totem yang diwariskan dari garis patrilineal dan garis matrilineal. Munculnya gambar naga itu sendiri mencerminkan sejarah perkembangan bangsa Tionghoa dan proses bergabungnya rakyat antara berbagai etnis.

Kemudian, figur naga yang melambangkan bangsa Tionghoa itu mulai diterapkan dalam aneka ragam corak dan berangsur-angsur membentuk huruf Kanji. Huruf “naga” juga terdapat tulisan pada batok kura-kura atau tulang binatang yang ditemukan di Petilasan Yin. Corak bergambar naga juga terlihat di pecahan tembikar zaman dahulu kala. Belum lama berselang, para arkeolog menemukan dua pecahan tembikar dengan corak naga di petilasan zaman kuno di Propinsi Liaoning, Tiongkok Timur Laut. Dua gambar naga itu berbeda, satu berbentuk naga terbang, dan satu lagi berbentuk naga yang bercokol. Kedua gambar itu kelihatannya hidup dengan sisiknya sangat jelas.
Setelah naga menjadi totem nenek moyang bangsa Tionghoa, bangsa Tionghoa pun berhubungan erat dengan naga, sehingga di kalangan rakyat muncul banyak dongeng tentang kelahiran nenek moyang bangsa Tionghoa, antara lain, Yan Di, Huang Di dan Yao oleh tiga wanita, yaitu Deng, Fubao dan Qingdu setelah mengharukan “naga” dengan kisah-kisahnya. Dengan demikian, nenek moyang bangsa Tioghoa menurut dongeng adalah generasi “naga”, maka anak cucu bangsa Tionghoa tentu saja adalah generasi naga.

Read Full Post »

Filsafat China

Filsafat China adalah salah satu dari filsafat tertua di dunia dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar dari 3 filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia.

Filsafat dasar lainnya adalah Filsafat India dan Filsafat Barat. Masing-masing filsafat tentunya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa. Di bawah ini saya kutip sejarah filsafat China dari situs Filsafat Kita. Mohon ditanggapi baik dari segi kebudayaan, sejarah ataupun agama, karena ini juga adalah rangkuman dari seorang peminat filsafat Indonesia.

FILSAFAT CHINA

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina.

Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewa-dewa semua dikuasai oleh suatu nasib buta (“Moira”), dan ketika kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar:

1. Jaman Klasik (600-200 S.M.)

Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun, kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum, misalnya “tao” (“jalan”), “te” (“keutamaan” atau “seni hidup”), “yen” (“perikemanusiaan”), “i” (“keadilan”), “t’ien” (“surga”) dan “yin-yang” (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman klasik adalah:

Konfusianisme
Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, “guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao (“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan.
Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan (“yen”), yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.

Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”).

Yin-Yang
“Yin” dan “Yang” adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang tertentu.

Moisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah “cinta universal”, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek.

Ming Chia
Ming Chia atau “sekolah nama-nama”, menyibukkan diri dengan analisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga disebut “sekolah dialektik”, dapat dibandingkan dengan aliran sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal
seperti “eksistensi”, “relativitas”, “kausalitas”, “ruang” dan “waktu”.

Fa Chia
Fa Chia atau “sekolah hukum”, cukup berbeda dari semua aliran klasik lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu sistem undang-undang yang keras sekali.

Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturut-turut: (1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okultisme (dari ahli-ahli magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli politik.

2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)

Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan “Nirwana” dari ajaran Buddha, yaitu “transendensi di seberang segala nama dan konsep”, “di seberang adanya”.

3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)

Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

4. Jaman Modern (setelah 1900)

Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.

Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani, filsafat Helenisme, “filsafat Kristiani”, filsafat Islam, filsafat jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.

Rinto Jiang

http://iccsg.wordpress.com/

Read Full Post »

Pada tahun 1899 di An Yang propinsi HeNan ditemukan situs purbakala yang penting, yaitu kota YinXv (dinasti Shang) dan tulisan JiaGuWen ? ? ?. Sejak itu pengetahuan mengenai YinShang memasuki babak baru.

Berdasarkan itu , para ahli tulisan kuno beranggapan bahwa tulisan Jia GuWen adalah tulisan purba yang termasuk lengkap dan baik.
Hingga hari ini telah diketahui lebih dari 3000 aksara jia guwen, termasuk kata benda, kata kerja, kata ganti, kata kerja pembantu. Ini membuktikan telah adanya susunan tata bahasa. Bahkan bisa dibuat suatu bentuk narasi lebih dari 170 huruf.
Dari fakta-fakta ini, para ahli berpendapat bahwa jia guwen bukanlah asal mula aksara mandarin, sebelumnya pasti telah melewati
suatu proses yang panjang.

Darimana asal mula aksara mandarin , ini telah menimbulkan suatu perdebatan. Sejarawan senior dan ahli bahasa kuno yaitu Guo MoRuo dan Yv ShengWu (cat:salah satu telah meninggal) beranggapan bahwa kelahiran aksara mandarin berasal dari kebudayaan kuno Tiongkok yaitu BanBo YangShao (cat:yang sering disebut YangShao WenHua) yang telah berumur lebih dari 6 ribu tahun. Guo MoRuo beranggapan bahwa 20 hingga 30 ideograph atau simbol yang terdapat di gerabah merupakan cikal bakal aksara mandarin. Demikian pula pendapat Yv ShengWu.

Tapi belakangan ini penelitian beberapa ahli beranggapan bahwa tulisan aksara pada YangShao dan kebudayaan Da WenKhou (cat:propinsi ShanDong, Da WenKhou WenHua) tidak memiliki hubungan langsung dengan aksara mandarin, proses perubahan dan pembentukan aksara mandarin berkisar 3000 BC.

Pendapat ini menurut Zhang Rong adalah tidak relevan. Perlu diketahui bahwa 7500 tahun yang lampau telah ada sistem pertanian dan peternakan , terutama di sepanjang sungai Chang Jiang. Bahkan pada masa itu jawawut telah digunakan sebagai pakan ternak. Dan banyak ahli telah memiliki suatu pandangan bahwa kisah kaisar purba yaitu Shen Nong dan FuXi merupakan suatu era atau masa. Misalnya sistem penghitungan dan administrasi Fu Xi merupakan sistem yang digunakan para peternak dan petani untuk menghitung dan administrasi.

Berdasarkan beberapa penemuan terakhir , awal sejarah aksara mandarin telah berumur 8500 tahun yang lampau. Walau terdapat beberapa perbedaaan kecil antara aksara kebudayaan Yang Shao dan HongShan (CMIIW), tapi ini tidak menjadi suatu rintangan dalam pembentukan Han Zhi.

Disini kita bisa mengetahui bahwa ternyata sejarah Han Zhi itu memiliki umur yang panjang.

by Perfect Harmony
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1893

Read Full Post »

Gambar di atas adalah salah satu huruf Mandarin (Hanzi) yang tersusah yang pernah ada di muka bumi. Susah di sini maksudnya goresan 1 hurufnya sangat rumit dan banyak (ada 57 goresan). Lihat saja sudah ‘merinding’ deh!

Huruf ini berbunyi “Biang”, nada ke-2. Biang adalah nama mie yang populer di kota Xianyang, propinsi Shaanxi (China). Di bawah ini juga ada foto toko dan mie Biang-Biang (Mandarin: Biang-Biang Mian). Toko mie Biang-Biang juga ada di Beijing. Tapi, di Beijing, nama mereka berubah jadi mie Bang-Bang (Bang: Hebat). Karena banyak warga Beijing yang tidak bisa membaca huruf Biang.

Huruf Biang diakui sebagai salah satu huruf Mandarin yang paling ribet yang ada di jagat raya. Huruf Biang ini sudah pasti tidak ada di dalam komputer manapun di dunia. Bahkan di Kangxi Dictionary juga tidak ditemukan huruf ini.

Read Full Post »

Huruf Kanji

Huruf Kanji adalah salah satu macam huruf yang bersejarah paling lama dan paling banyak pemakainya di dunia. Lahirnya huruf Kanji tidak hanya mendorong maju perkembangan kebudayaan Tiongkok, tapi juga menimbulkan pengaruh menjangkau jauh terhadap perkembangan kebudayaan dunia.

Di petilasan Banpo yang bersejarah 6000 tahun ditemukan 50 lebih tanda goresan. Tanda-tanda itu mempunyai ciri khas sebagai aksara yang singkat karena tanda-tanda goresan itu tampak rapi dan teratur.

Menurut para sarjana, huruf Kanji terbentuk pada Dinasti Shang abad ke-16 Sebelum Masehi. Menurut hasil survei arkeologis, jauh pada masa awal Dinasti Shang, peradaban Tiongkok telah berkembang sampai taraf yang cukup tinggi dengan salah satu lambangnya ialah munculnya Jiaguwen atau aksara di batok kura-kura dan tulang binatang, yang merupakan huruf zaman kuno Tiongkok. Menurut catatan sejarah, pada Dinasti Shang, raja mengadakan upacara tenung sebelum melakukan sesuatu hal yang penting. Batok kura-kura dan tulang binatang adalah alat yang digunakan dalam upacara penenungan.

Sebelum dipakai sebagai alat untuk ditulisi, batok kura-kura harus diproses lebih dulu, yaitu pertama dibersihkan dan kemudian dipepat halus. Setelah itu, di atas permukaan batok itu akan dipahat tanda huruf yang diatur terapi. Biasanya penenung memahat namanya serta tanggal penenungan, dan soal yang hendak diramalkan semuanya dipahat di atas batok. Seusai pemahatan, batok itu akan dipanggang di mana pahatan akan memunculkan celah-celah. Berdasarkan arah dan bentuk celah-celah itulah, si penenung akan mendapat hasil peramalan. Benar atau tidak ramalan itu kemudian juga akan dipahat di atas batok. Apabila ramalan yang dipahat dalam batok itu terbukti benar, maka batok kura-kura itu akan disimpan oleh pihak resmi sebagai arsip.

Dewasa ini, arkeolog seluruhnya menemukan 160 ribu keping batok kura-kura. Di antaranya ada batok yang utuh, tapi ada keping-keping tanpa aksara. Menurut statistik, jumlah huruf yang terdapat di atas batok kura-kura dan tulang binatang itu melebihi 4000, tapi hanya 3000 pernah distudi. Di antara 3000 aksara itu, hanya 1000 lebih dapat dibaca oleh sarjana. Adapun huruf yang lain tak bisa dimengerti atau terdapat perselisihan serius mengenai artinya. Biarpun demikian, melalui 1000 lebih aksara itu dapat kita ketahui secara kasar keadaan politik, ekonomi dan kebudayaan Dinasti Shang. Huruf yang tertulis di batok kura-kura dan tulang binatang merupakan huruf sistematis dan merupakan dasar huruf Kanji kemudian.

Proses evolusi huruf Kanji adalah satu proses di mana bentuknya setapak demi setapak menjadi standar dan stabil. Huruf Kanji adalah sistem aksara dengan aksara piktografis sebagai dasarnya. Jumlahnya tercatat 10 ribu lebih, di antaranya 3000 huruf sering dipakai. Dengan 3000 huruf itu, terbentuklah kata-kata dan kalimat bahasa Han.

Setelah terbentuknya huruf Kanji, Jepang, Vietnam dan Korea juga menciptakan aksaranya di atas dasar itu sehingga pengaruhnya sangat mendalam.

Setelah terbentuknya huruf Kanji, Jepang, Vietnam dan Korea juga menciptakan aksaranya di atas dasar itu sehingga pengaruhnya sangat mendalam.

Read Full Post »

Older Posts »