Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tradisi’ Category

Tarian Singa

Tarian Singa (bahasa Cina: 舞獅; pinyin: wǔshī) adalah sebahagian daripada tarian tradisional dalam adat warisan masyarakat Cina, yang mana penari akan meniru pergerakan singa dengan menggunakan kostum singa. Kostum singa itu dimainkan oleh dua penari iaitu seorang memainkan di bahagian hadapan dengan menggerakan kepala kostum, manakala pasangan penari akan memainkan bahagian belakang kostum singa tersebut. Kedua-dua penari itu akan bergerak seakan-akan singa di atas pentas yang disediakan. Tarian singa ini akan diiringi oleh gong, dram, dan dentuman mercun yang dikatakan akan membawa tuah.

Sejarah singa dianggap sebagai pelindung dalam kebanyakan adat orang Asia, terutamanya bagi mereka yang berketurunan orang Cina. Tarian singa menjadi adat di negara China, Taiwan, Jepun, Korea, Thailand, dan Vietnam. Setiap negara tersebut mempunyai corak dan bentuk tarian yang berbeza. Namun tarian ini lebih terkenal sebagai warisan orang Cina, kerana dikatakan sejarahnya bermula lebih 1,000 tahun lalu. Dua tarian singa yang amat popular ialah “Tarian Singa Utara” dan “Tarian Singa Selatan”.

Tarian Singa Utara adalah berasal dari bahagian utara China yang menggunakan tarian ini sebagai hiburan diraja. Kostum singa mereka menggunakan warna merah, jingga dan kuning (hijau bagi kostum singa betina). Tarian Singa Utara adalah lebih banyak pergerakan akrobatik dan bertujuan sebagai hiburan.

Tarian Singa Selatan lebih membawa perlambangan alam sekitar. Tarian ini selalu dipersembahkan sebagai istiadat upacara membuang semangat jahat dan upacara meminta tuah. Tarian Singa Selatan menggunakan pelbagai warna dan kepala kostum mempunyai mata yang lebih besar daripada Singa Utara, dan mempunyai cermin serta sebatang tanduk di hadapan kepalanya.

Advertisements

Read Full Post »

Oleh: Wartawan ”SH” H. Isyanto (sinarharapan.co.id)

JAKARTA – Ada dua versi tentang kerusuhan etnis Cina di Batavia pada tahun 1740. Ada versi yang mengatakan, pembantaian itu dilatar-belakangi persaingan dagang.
Pedagang Belanda, Eropa dan Arab kalah bersaing dengan pedagang Cina sehingga mereka menghasut penduduk kota Batavia untuk membantai orang Cina.
Versi lain menyebutkan, di masa itu banyak penduduk keturunan Cina di Batavia yang menganggur sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Dengan alasan itulah, pemerintah Kumpeni Belanda membantai mereka.
Entah versi mana yang benar, yang jelas pembantaian itu membuat etnis Cina di Batavia kalang kabut. Mereka melarikan diri ke pinggiran Batavia mencari selamat. Sebagian besar pindah ke Tangerang, Parung, Serpong, Parung Panjang, Tenjo, Cisauk, Teluk Naga dan Balaraja.
Mereka – yang kemudian lebih dikenal sebagai Cina Benteng – membawa serta adat kebiasaannya seperti membakar petasan menjelang pesta perkawinan, menjelang perayaan Peh Cun atau perayaan tradisi Cina lainnya.
Lama-kelamaan tradisi Cina Benteng itu ditiru oleh orang-orang Betawi. Bahkan, sampai sekarang pun orang Betawi –terutama Betawi pinggiran –selalu memasang petasan menjelang pesta perkawinan atau khitanan. ”Kaga afdol kalau ada pesta tapi kaga ade petasan.” Begitu seloroh orang Betawi.
Sebenarnya, memasang petasan memiliki arti simbolis. Yang pasti untuk memberi tahu kepada para undangan dan khalayak ramai bahwa pesta segera dimulai. Membakar petasan juga bisa menimbulkan suasana meriah.
Ada api, ada asap, kata peribahasa. Jika ada yang memasang petasan, pasti ada yang membuat dan menjualnya. Pada tahun 1800-an, pembuatan dan penjualan petasan dilakukan secara diam-diam karena para Cina Benteng itu masih trauma pada kegarangan Kumpeni Belanda.
Karena itulah, pembuatan petasan hanya didasarkan pesanan. Sebagian pembuat petasan masih memberlakukannya hingga sekarang.

Petasan ………….

Pembuatan petasan biasanya dilakukan di rumah-rumah sebagai ‘home industry’ yang hampir-hampir tidak pernah ketahuan, kecuali jika ”pabrik” tersebut meledak.
Ketika pesanan sedang ramai, para Cina Benteng pembuat petasan terpaksa mempekerjakan pribumi. Sebab, meskipun kelihatannya sederhana, membuat petasan memerlukan banyak tenaga yang terdiri tukang gulung kertas, tukang takar obat petasan (terdiri dari bron/mesiu, belerang dan potasium), tukang pantek dan tukang bikin sumbu.
Meskipun begitu, Cina Benteng itu tidak mau menularkan ilmunya begitu saja. Pasalnya, mereka tidak ingin memiliki saingan. Namun yang namanya manusia, cepat atau lambat pasti mengerti cara-cara membuat petasan. Para pribumi mencoba membuatnya. Ternyata, mereka pun bisa.
”Sampai tahun 1965-an, tukang petasan masih berjaya. Pasalnya, masih sedikit orang yang bisa membuat petasan. Di Parung saja, cuma ada empat orang yang bisa, termasuk saya. Empat tahun saya belajar di SMTBP alias Sekolah Menengah Tukang Bikin Petasan. Sekarang, tukang bikin petasan bejibun, hampir di setiap desa ada,” kata Lani (76 tahun), yang telah 37 tahun menjadi pengrajin petasan dan sampai saat ini masih melayani pesanan walaupun kini ia berprofesi sebagai petani empang.

Berkat petasan, ia mampu membesarkan dan menyekolahkan keempat anaknya. Berkat petasan pula, nafas Lani kini kerap sesak. ”Maklum, dah, namanya juga obat. Pelan tapi pasti, mengganggu pernapasan juga,” kata Lani.

Kota Petasan

Bicara tentang petasan rasanya kurang ”legitimate” jika tidak bicara tentang Parung Panjang, sebuah kota di sebelah barat Serpong, yang dikenal sebagai pusat petasan terbesar di Indonesia. Dari kota inilah ratusan kilo petasan dikirim ke Lampung, Banjarmasin, Pontianak dan ke kota-kota lainnya di Jawa.
”Sebenarnya, kami hanyalah pedagang perantara. Para pembuat petasan menyetor kepada kami dan kami hanya menjualnya. Biar begitu, kami tahu barang karena kami juga pernah membuat petasan,” kata seorang pedagang di Parung Panjang, yang berjualan di sekitar stasiun KA dan enggan disebutkan namanya.

Pedagang tersebut mengaku memiliki modal Rp 40 juta sampai dengan Rp 50 jutaan. ”Sebenarnya, ini cuma ”show room”. Kalau bertemu peminat serius, akan saya ajak ke rumah,” katanya. Ia mengaku, penjualan petasan di Parung Panjang mengalami ”booming” di bulan Puasa. Omzet mereka bisa Rp 10 juta sampai dengan Rp 15 juta per hari.

Menurut pedagang itu, petasan untuk orang hajatan berbeda dengan petasan yang lazim dijual pada bulan puasa. Petasan untuk orang hajatan dijual meteran dan jenisnya tertentu. Rentetan petasan kecil diseling dengan petasan besar. Harga per meternya sekitar Rp 15.000.

Petasan khusus bulan puasa lebih beraneka ragam, mulai petasan korek yang murah-meriah (harganya cuma Rp 4.000 per 500 batang), janwe (petasan yang menggunakan lidi dan meledak di udara), petasan teko dan beraneka ragam kembang api.

Tidak jauh dari stasiun Parung Panjang, terdapat sebuah tanah lapang milik seorang wanita yang dipanggil Mamih. Tanah lapang ini dipetak-petak dan disewakan Rp 150.000 per musim petasan. Di atas sepetak tanah berukuran sekitar 2 X 2 meter itu dibangun lapak daripada triplek, tempat para pedagang sekadar berteduh dari hujan dan panas serta tempat mereka memajang barang dagangannya, dari pagi hingga sore selama bulan puasa.

Pembeli petasan berdatangan dari berbagai kota. Dalam bulan puasa tahun ini, diperkirakan omzet Parung Panjang sebagai pusat petasan mencapai miliaran rupiah. Dengan perhitungan, setiap hari setiap lapak mampu menjual petasan senilai Rp 3juta, yang kemudian dikalikan jumlah lapak dan dikalikan 30 hari.
Umumnya, para pembeli menggunakan jasa kereta api dan turun di Stasiun Parung Panjang. Sebab, letak lapak-lapak itu tidak jauh dari stasiun. Tampaknya, hal ini memang sengaja dikondisikan oleh pemerintah daerah setempat.

Yang namanya pedagang, tidak selamanya untung. Terkadang, mereka juga berurusan dengan polisi mengingat mereka menjual barang panas yang mudah meledak.

”Orang yang jualan di sini rata-rata pernah berurusan dengan polisi. Puncaknya, ketika salah seorang pedagang di sini terlibat peledakan BCA sehingga kami ikut-ikutan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan. Untung, semua itu telah berlalu dan kami bisa berjualan lagi. Habis mau bagaimana lagi, ini sudah tradisi,” kata seorang pedagang wanita, yang juga enggan disebutkan namanya.

Para pedagang di lapak itu kabarnya telah membuat ”MoU” dengan aparat. Dengan begitu, mereka aman menjalankan usahanya tanpa harus takut digrebek. Petugas juga terkesan menjamin keamanan para pembeli. Buktinya, tidak pernah lagi razia terhadap pembeli petasan dalam partai besar.

”Kita sama-sama cari makanlah. Dengan adanya petasan, pedagang lain di Parung Panjang ikut kecipratan rejeki. Tukang nasi, tukang minuman, tukang parkir dan PT KAI. Belum lagi, bagi para petani yang membuat petasan sebagai pekerjaan sambilan,” kata pedagang itu.

Mudah Curiga
Memasuki pusat perdagangan petasan di Parung Panjang jauh lebih mudah katimbang memasuki daerah ”pabrik” petasan di daerah Parung, Sawangan, Tenjo atau Gunung Sindur. Para pengrajin petasan di sana mudah curiga terhadap orang asing. Hal ini disebabkan pembuatan petasan sudah seperti bisnis desa yang melibatkan banyak keluarga. Dan mereka tidak mau ”pendaringannya” terganggu.

Sebuah stasiun televisi swasta nyaris dilempari ketika hendak meliput cara-cara membuat petasan di Parung. Padahal, tim televisi swasta tersebut hanya akan mengambil gambar tangan mereka saja, tanpa menyebutkan nama desa dan nama orang. Bahkan, ketika pihak televisi menawarkan uang kompensasi Rp 500.000, mereka malah tersinggung dan nyaris melemparinya dengan batu.

Kasus terakhir terjadi di desa Parung Poncol, Sawangan, ketika sebuah pabrik petasan meledak dan melukai tiga orang, Kamis (8/11). Polisi yang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) pun mereka usir.

Pengalaman serupa juga dialami SH. Namun untungnya, diantar oleh penduduk asli setempat SH sehingga tidak sempat diusir atau dilempari. ”Pokoknya, kesimpulannya gini aja, dah, Pak. Selama masih ada orang kawin dan selama masih ada bulan puasa, bisnis petasan takkan pernah mati,” kata seorang pengrajin yang juga enggan disebutkan namanya. ***

Read Full Post »

Salah satu warisan kesenian Tionghoa di Tanah Air dan yang kini sulit ditemui dan nyaris punah akibat jarang dipentaskan adalah Wayang Potehi.

Seiring kebebasan berekspresi belakangan ini Wayang Potehi kembali dimainkan, seperti yang dipentaskan oleh seorang dalang Wayang Potehi di Semarang, dalam menyemarakkan peringatan Tahun Baru Imlek. Bagi kalangan orang tua warga Tionghoa, menonton petunjukan Potehi adalah nostalgia dimasa kanak – kanak mereka, dimana saat itu Wayang Potehi kerap dipentaskan.

Wayang yang bentuknya serupa dengan wayang golek ini, merupakan kesenian warisan leluhur Tionghoa di Tanah Air, yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Banyaknya kaum muda Tionghoa yang tidak mengenal jenis kesenian ini adalah hal yang wajar, karena Wayang Potehi memang jarang dipentaskan.

Sejak tahun 1967, Wayang Potehi dilarang dipentaskan seiring dengan kondisi politik nasional saat itu. Namun belakangan, Wayang Potehi kembali dipentaskan lagi meski sangat jarang diketemui. Satu dari sedikit dalang Wayang Potehi tersisa yang saat ini adalah Thio Tiong Jie, seniman keturunan Thionghoa warga Semarang yang telah menekuni dunia Wayang Potehi sejak tahun 50 an.

Dalam suasana perayaan Imlek Wayang Potehi kini kerap dimainkan, seperti yang dipentaskan dalam Thio Tiong Jie di wawasan pecinan Semarang Tengah. Kali ini cerita yang dimainkan pria berusia 75 tahun ini adalah kisah Sie Jien Kwui menyerang kota Kien Haek Wan.

Cerita Wayang Potehi biasanya mengambil lakon sejarah kerajaan Cina tempo dulu, hingga kisahnya sub warga keturunan di Tanah Air, seperti halnya kesenian wayang lainnya. Pentas Wayang Potehi juga diiringi dengan alunan musik berupa musik asli tempo dulu dari Cina. (Agus Hermanto/Dv/Sup/indosiar.com)

Read Full Post »

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).

ADAT PERNIKAHAN
Upacara pernikahan merupakan adat perkawinan yang didasarkan atas dan bersumber kepada kekerabatan, keleluhuran dan kemanusiaan serta berfungsi melindungi keluarga. Upacara pernikahan tidaklah dilakukan secara seragam di semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi menurut tempat diadakannya; yaitu disesuaikan dengan pandangan mereka pada adat tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.
Umumnya orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia membawa adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Salah satu adat yang seharusnya mereka taati adalah keluarga yang satu marga (shee ) dilarang menikah, karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan suku. Misalnya : marga Lie dilarang menikah dengan marga Lie dari keluarga lain, sekalipun tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga sangat diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ke orang lain. Misalnya : pernikahan dengan anak bibi (tidak satu marga, tapi masih satu nenek moyang).
Ada beberapa yang sekalipun telah memeluk agama lain, seperti Katolik namun masih menjalankan adat istiadat ini. Sehingga terdapat perbedaan di dalam melihat adat istiadat pernikahan yaitu terutama dipengaruhi oleh adat lain, adat setempat, agama, pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing.

UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM PERNIKAHAN
Pesta dan upacara pernikahan merupakan saat peralihan sepanjang kehidupan manusia yang sifatnya universal. Oleh karena itu, upacara perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula halnya dengan adat pernikahan orang Tionghoa yang mempunyai upacara-upacara antara lain:
A. Upacara menjelang pernikahan :
Upacara ini terdiri atas 5 tahapan yaitu :
* Melamar : Yang memegang peranan penting pada acara ini adalah mak comblang. Mak comblang biasanya dari pihak pria.
* Penentuan : Bila keahlian mak comblang berhasil, maka diadakan penentuan bilamana antaran/mas kawin boleh dilaksanakan.
* “Sangjit” / Antar Contoh Baju : Pada hari yang sudah ditentukan, pihak pria/keluarga pria dengan mak comblang dan kerabat dekat mengantar seperangkat lengkap pakaian mempelai pria dan mas kawin. Mas kawin dapat memperlihatkan gengsi, kaya atau miskinnya keluarga calon mempelai pria. Semua harus dibungkus dengan kertas merah dan warna emas. Selain itu juga dilengkapi dengan uang susu (ang pauw) dan 2 pasang lilin. Biasanya “ang pauw” diambil setengah dan sepasang lilin dikembalikan.
* Tunangan : Pada saat pertunangan ini, kedua keluarga saling memperkenalkan diri dengan panggilan masing-masing, seperti yang telah diuraikan pada Jelajah No. 3.
* Penentuan Hari Baik, Bulan Baik : Suku Tionghoa percaya bahwa dalam setiap melaksanakan suatu upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan pernikahan kurang tepat akan dapat mencelakakan kelanggengan pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu : jam sebelum matahari tegak lurus; hari tergantung perhitungan bulan Tionghoa, dan bulan yang baik adalah bulan naik / menjelang purnama.

B. Upacara pernikahan :
* 3 – 7 hari menjelang hari pernikahan diadakan “memajang” keluarga mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai wanita. Mereka membawa beberapa perangkat untuk meng-hias kamar pengantin. Hamparan sprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin. Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon mempelai wanita sampai hari H.
* Malam dimana esok akan diadakan upacara pernikahan, ada upacara “Liauw Tiaa”. Upacara ini biasanya dilakukan hanya untuk mengundang teman-teman calon kedua mempelai. Tetapi adakalanya diadakan pesta besar-besaran sampai jauh malam. Pesta ini diadakan di rumah mempelai wanita. Pada malam ini, calon mempelai boleh digoda sepuas-puasnya oleh teman-teman putrinya. Malam ini juga sering dipergunakan untuk kaum muda pria melihat-lihat calonnya (mencari pacar).

C. Upacara Sembahyang Tuhan (“Cio Tao”)
Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun, adakalanya upacara Sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam menjelang pernikahan. Upacara Cio Tao ini terdiri dari :
. Penghormatan kepada Tuhan
. Penghormatan kepada Alam
. Penghormatan kepada Leluhur
. Penghormatan kepada Orang tua
. Penghormatan kepada kedua mempelai.

Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahnya diberi 7 macam buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan.
Di bawah meja harus ada jambangan berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah ?2 meter dan di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang umur dan setia.
Kedua mempelai memakai pakaian upacara kebesaran Cina yang disebut baju “Pao”. Mereka menuangkan teh sebagai tanda penghormatan dan memberikan kepada yang dihormati, sambil mengelilingi tampah dan berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan memberikan arti secara simbolik.

D. Ke Kelenteng
Sesudah upacara di rumah, dilanjutkan ke Klenteng. Di sini upacara penghormatan kepada Tuhan Allah dan para leluhur.

E. Penghormatan Orang tua dan Keluarga
Kembali ke rumah diadakan penghormatan kepada kedua orang tua, keluarga, kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan “ang pauw” baik berupa uang maupun emas, permata. Penghormatan dapat lama, bersujud dan bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.

F. Upacara Pesta Pernikahan
Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran ditukar dengan pakaian “ala barat”. Pesta pernikahan di hotel atau tempat lain.
Usai pesta, ada upacara pengenalan mempelai pria ( Kiangsay ). Mengundang kiangsay untuk makan malam, karena saat itu mempelai pria masih belum boleh menginap di rumah mempelai wanita.

G. Upacara sesudah pernikahan
Tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
1. Cia Kiangsay
2. Cia Ce’em
Pada upacara menjamu mempelai pria (“Cia Kiangsay”) intinya adalah memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama.
Sedangkan “Cia Ce’em” di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh keluarga besar mempelai wanita.
Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Cina yang lebih sederhana.

PERUBAHAN YANG BIASA TERJADI PADA ADAT UPACARA PERNIKAHAN
* Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti: mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.
* Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya. Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah, tetapi untuk yang beragama Kristen tetap ke Gereja dan upacara di Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti dengan di gereja.
* Pengaruh pengetahuan dan teknologi, dapat dilihat dari kepraktisan upacara. Dewasa ini orang-orang lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara yang berbelit-belit. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang telah dipengaruhi oleh teknologi canggih.

Sebagai suatu pranata adat yang tumbuh dan mempengaruhi tingkah laku masyarakat yang terlibat di dalamnya, sasaran pelaksanaan adat pernikahan Tionghoa mengalami masa transisi. Hal ini ditandai dengan terpisahnya masyarakat dari adat pernikahan tersebut melalui pergeseran motif baik ke arah positif maupun negatif dan konflik dalam keluarga.
Dewasa ini masyarakat Tionghoa lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara adat. Hampir semua peraturan yang diadatkan telah dilanggar. Kebanyakan upacara pernikahan berdasarkan dari agama yang dianut.

Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999

Read Full Post »

Barongsai

Barongsai adalah tarian tradisional Tiongkok dengan mengunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.

Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.

Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan gong dan tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.

Satu gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilah ‘Lay See’. Di atas amplop tersebut biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang Singa. Proses memakan ‘Lay See’ ini berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian Singa.

Barongsai di Indonesia

Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan.

Barongsai di Indonesia mengalami masa maraknya ketika zaman masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai. Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.

Pada zaman pemerintahan Soeharto, barongsai sempat tidak diijinkan untuk dimainkan. Satu-satunya tempat di Indonesia yang bisa menampilkan barongsai secara besar-besaran adalah di kota Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong atau dikenal juga dengan Kelenteng Gedong Batu. Setiap tahun, pada tanggal 29-30 bulan enam menurut penanggalan Tiong Hoa (Imlik), barongsai dari keenam perguruan di Semarang, dipentaskan. Keenam perguruan tersebut adalah:
1. Sam Poo Tong, dengan seragam putih-jingga-hitam (kaos-sabuk-celana), sebagai tuan rumah
2. Hoo Hap Hwee dengan seragam putih-hitam
3. Djien Gie Tong (Budi Luhur) dengan seragam kuning-merah-hitam
4. Djien Ho Tong (Dharma Hangga Taruna) dengan seragam putih-hijau
5. Hauw Gie Hwee dengan seragam hijau-kuning-hijau kemudian digantikan Dharma Asih dengan seragam merah-kuning=merah
6. Porsigab (Persatuan Olah Raga Silat Gabungan) dengan seragam biru-kuning-biru

Walaupun yang bermain barongsai atas nama ke-enam kelompok tersebut, tetapi bukan berarti hanya oleh orang-orang Semarang. Karena ke-enam perguruan tersebut mempunyai anak-anak cabang yang tersebar di Pulau Jawa bahkan sampai ke Lampung. Di kelenteng Gedong Batu, biasanya barongsai (atau di Semarang disebut juga dengan istilah Sam Sie) dimainkan bersama dengan Liong (naga) dan Say (kepalanya terbentuk dari perisai bulat, dan dihias menyerupai barongsai berikut ekornya).

Saat ini barongsai di Indonesia sudah dapat dimainkan secara luas, bahkan telah meraih juara pada kejuaraan2 dunia. Dimulai dengan Barongsai Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dari Padang yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di genting – malaysia pada tahun 2000. Hingga kini barongsai Indonesia sudah banyak mengikuti berbagai kejuaraan-kejuaraan dunia dan meraih banyak prestasi. Sebut saja beberapa nama seperti Kong Ha Hong (KHH) – Jakarta, Dragon Phoenix (DP) – Jakarta, Satya Dharma – Kudus, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) – Tarakan. Bahkan nama terakhir, yaitu PSMTI telah meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun 2006. Perguruan barongsai lainnya adalah Tri Pusaka Solo yang pada pertengahan Agustus 2007 lalu memperoleh Juara I President Cup.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai

Read Full Post »

Di kalangan rakyat Tiongkok, banyak terdapat riwayat tentang asal usul Tahun Baru Imlek. Salah satunya ialah, pada zaman purba, terdapat sejenis binatang galak yang bernama Nian. Pada malam terakhir setiap tahun, ia pergi ke setiap kampung dan keluarga, untuk makan manusia. Pada suatu malam, Nian pergi ke sebuah kampung untuk makan manusia lagi, tetapi kebetulan terdapat dua orang kanak-kanak yang sedang bermain cambuk, dan mengeluarkan bunyi yang menakjubkan. Nian setelah terdengar bunyi itu, sangat terkejut dan melarikan diri. Ia pergi ke sebuah kampung lagi, dan melihat sehelai baju merah yang digantung di depan pintu sebuah rumah. Ia berasa tidak nyaman dengan baju merah itu, dan secepat kilat ia melarikan diri. Kemudian ia pergi ke sebuah kampung lagi dan melihat ke dalam satu rumah, dalam rumah itu sangat terang, lalu Nian melarikan diri lagi. Sejak waktu itu, orang sudah tahu Nian takut pada bunyi, warna merah dan cahaya yang terang, dan telah mendapat banyak cara untuk menangkisnya, misalnya menyalakan petasan, menempel kuplet dan memasang lampu, dan ini secara beransur-ansur menjadi adat kebiasaan di tahun baru Imlek.

Kegiatan merayakan Tahun Baru Imlek dimulai sejak tanggal 23 bulan ke-12 tahun Imlek dan sampai 15 bulan pertama tahun kemudian, yaitu pesta Capgomeh, selama hampir sebulan. Dalam masa itu, terdapat banyak jenis kegiatan bagi merayakannya, termasuk dalam kehidupan sehari-hari, istiadat dan hiburan.

Ketika memasuki bulan 12 tahun Imlek, orang Tionghoa sudah mulai menyapu rumah secara besar-besaran. Namun pada malam terakhir tahun itu, setelah makan malam sampai keesokan harinya, menyapu lantai menjadi pantangan besar karena orang Tionghoa beranggapan bahwa mereka yang menyapu lantai pada waktu itu, dia akan mengalami kerugian uang.

Pada saat merayakan Tahun Baru Imlek, orang Tionghoa yang tinggal di Tiongkok Utara maupun Selatan sangatlah mementingkan makanan. Pada malam terakhir setiap tahun, mereka harus makan dan minum bersama-sama, dan makanan juga bermacam-macam. Tetapi lauk ikan amatlah penting dan tidak boleh dihilangkan. Di Tiongkok Utara, pada malam itu, mereka harus makan Jiaozi atau dumpling dengan harapan, semoga bahagia dan kehidupan serba lancar dari tahun ke tahun. Di Tiongkok Selatan, mereka harus makan kue tahun baru agar kehidupan mereka semakin tahun semakin bahagia.

Waktu merayakan tahun baru Imlek, orang Tionghoa biasanya senang menempel dan menggantung kertas merah atau barang perhiasan yang dianggap bertuah di depan pintu, halaman, kamar tidur, dinding, jendela dan perabot supaya suasana menjadi meriah. Adat istiadat menempel kuplet, dewa pintu, lukisan tahun baru seperti itu adalah bertujuan agar tercapai harapan dan doa agar hidup serba lancar, panjang umur dan bahagia.

Adapun berbagai hiburan juga dilakukan dalam suasana perayaan tahun baru Imlek, seperti memasang petasan merupakan kebiasaan yang sangat popular, bertukar teka-teki, mengunjungi pesta di kuil-kuil dan menikmati kecantikan lampu tanglong, lampion. Kegiatan tersebut biasanya dimulai sebelum malam tahun baru hingga mencapai puncaknya pada pesta Capgomeh.

Kebiasaan dalam suasana Tahun Baru Imlek juga banyak. Paling popular adalah saling memberikan kartu tahun baru, saling memberi angpao dan mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek”. Pada malam terakhir setiap tahun, setelah makan malam bersama, generasi muda mengucapkan “Selamat Tahun Baru” kepada generasi tua, dan generasi tua memberi angpao kepada anak-anak. Pada tanggal 1 bulan pertama tahun Imlek, orang memakai baju yang mewah dan cantik, mereka saling mengucapkan selamat tahun baru dan panjang umur kepada orang tua, kemudian berkunjung ke sanak keluarga dan kawan-kawan. Pada waktu itu, suasana hari raya sangat meriah dan akrab penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan.

Di antara jutaan orang Tionghoa yang ada di dunia ini, ternyata tidak banyak yang mengetahui sejarah dan asal usul Tahun Baru Imlek. Biasanya mereka hanya merayakannya dari tahun ke tahun bila kalender penanggalan Imlek telah menunjukan tanggal satu bulan satu. Jenis dan cara merayakannya pun bisa berbeda dari satu suku dengan yang lain.

Keterbatasan pengetahuan ini dikarenakan luasnya daratan Tiongkok dengan beraneka ragamnya kondisi alam, lingkungan secara geografis maupun demografis, belum lagi secara etnis. Ada yang dimulai dengan sembahyang kepada Tuhan Yang Mahaesa dan para Dewa, serta leluhur, ada pula yang dimulai dengan makan ronde, maupun kebiasaan-kebiasaan lain sebelum saling berkunjung ke sanak saudara sambil tidak lupa membagi-bagi angpau untuk anak-anak, yang tentu saja menerimanya dengan penuh kegembiraan.

Sebenarnya penanggalan Tionghoa dipengaruhi oleh dua system kalender, yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29½ hari. Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam. Pembagian musim ini terbukti amat berguna untuk para petani dalam menentukan saat tanam maupun saat panen.

Berikut beberapa contoh pembagian 24 musim tersebut:

– Permulaan musim semi
Hari pertama pada musim ini adalah hari pertama Perayaan Tahun Baru, atau saat dimulainya Perayaan Musim Semi (Chun Jie).
– Musim hujan
Saat hujan mulai turun.
– Musim serangga
Serangga mulai tampak setelah tidur panjangnya selama musim dingin.
– dll (Masih terdapat 21 musim lain yang terlalu panjang untuk dibahas satu persatu)

Selain pembagian musim di atas, dalam penanggalan Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan, yang kita kenal dengan “Shio”, yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam,
Anjing, Babi.

Kesimpulannya, penanggalan Tionghoa tidak hanya mengikuti satu sistem saja, melainkan juga ada beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu musim, lima unsur, angka langit, shio, dll. Walaupun demikian, semua perhitungan hari ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Tionghoa” yang baik, lengkap dan harmonis bahkan hampir bisa dikatakan sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah “Lun Gwe”, merupakan bulan untuk mengkoreksi setelah satu periode tertentu.

Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan sebuah perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa. Menggantung lentera merah, membunyikan petasan dan menyembunyikan sapu adalah salah satu keunikan dari perayaan ini. Disamping itu, masyarakat Tionghoa juga akan mulai menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan ini

In Nian Kuaile (Bahagia di Tahun Baru), Guo Nian Hao (Selamat Menjalani Tahun Baru), Chunjie Kuaile (Bahagia di Musim Semi), Sincun Kionghi (Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru), Sincia Cuyi (Selamat Tahun Baru), Kiunghi Sinnyen (Selamat Tahun Baru) adalah serangkaian ucapan selamat menyambut Imlek dalam bahasa Mandarin, Hokkian, Tiociu, dan Hakka.

Mengapa di Indonesia hari raya ini disebut Tahun Baru Imlek? Tidak ada satu pun ucapan itu mengandung kata Imlek. Apa arti kata Imlek? Dari bahasa Mandarin-kah? Tidak! Kata Imlek berasal dari bahasa Hokkian Selatan, berarti “penanggalan bulan”. Jadi, kata Imlek sebenarnya mengacu nama penanggalan yang didasarkan perhitungan bulan (lunar), yang dalam bahasa Mandarin disebut yinli. Dengan demikian, istilah Tahun Baru Imlek berarti “Tahun Baru Menurut Penanggalan Bulan”.

Penduduk keturunan Tionghoa di Indonesia menggunakan kata Sincia “bulan 1 yang baru” dengan ucapan Sincun Kionghi “Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru” atau Kionghi berarti “Selamat”. Juga ada kata konyan yang berasal dari guo nian (bahasa Mandarin), berarti “melewati tahun yang baru”.

Di negara asalnya, Tiongkok, perayaan Imlek dinamakan Chunjie, berarti “Perayaan Musim Semi”. Kata Chunjie digunakan sejak Tiongkok merdeka. Sebelumnya digunakan istilah Yuandan, berarti pada pertama di tahun yang baru dimasuki. Tahun 1949 Pemerintah Tiongkok menetapkan nama Yuandan untuk Tahun Baru Internasional, 1 Januari, sedangkan Tahun Baru Imlek dinamakan Chunjie.

Upacara menyambut Tahun Baru Imlek adalah Toapekong Naik, dilakukan pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian) / bulan La (bahasa Mandarin) tanggal 23 atau 24.

Kata toapekong bermakna “paman buyut” (saudara laki-laki buyut) dengan makna kiasan “dewa”. Biasanya dewa dianggap orang berusia tua. Toapekong digambarkan sebagai orang yang seusia buyut atau generasi di atasnya.

Pada tanggal 23 / 24 itu, Toapekong yang naik bukan sembarang dewa, tetapi dewa tertentu, yaitu Dewa Dapur bernama Zao Shen. Alias: Kakek Dapur, Raja Dapur, Komandan Dapur Timur, Komandan Kepala Keluarga, Dewa Pelindung Rumah, Dewa Penguasa Penentu Kebahagiaan. Mengingat nama-nama alias itu tidak jauh dari hal seputar rumah tangga, maka dewa ini dianggap sebagai dewa keluarga yang menentukan baik-buruknya nasib suatu keluarga. Di Indonesia Dewa Dapur juga disebut Cao Kun Kong.

Siapa sebetulnya Dewa Dapur ini, mengapa ia begitu dihormati sehingga diadakan upacara khusus, misi apa yang dijalankan? Ada yang mengatakan, ia adalah Kaisar Shen Nong yang mengajari manusia bercocok tanam. Ia pula yang menciptakan api. Dikarenakan jasanya yang besar, setelah wafat ia menjadi dewa yang bernama Zao Shen atau Dewa Dapur.

Misinya, memberi laporan kepada Mahadewa tentang hal baik dan buruk dari keluarga bersangkutan. Karena bersemayam di dapur -di salah satu sudut atau tempat di dapur- ia tahu semua perkara dalam keluarga itu. Di situlah seorang ibu mengomel, ngerumpi bersama ibu-ibu lain, tertawa, dan bercanda bersama anggota keluarga lain sambil mengerjakan urusan rumah tangga. Dewa Dapur yang ada di sana pasti mendengar semua perkataan dan mencatatnya. Tanggal 23 dan 24 Cap Ji Gwee atau bulan 12 adalah saatnya Dewa Dapur naik ke langit, melaporkan seluruh kejadian
selama satu tahun kepada keluarga itu.

Agar Dewa Dapur hanya melaporkan hal yang baik, manusia mencari akal untuk menyenangkan hatinya. Bahkan, manusia sampai memikirkan agar dalam perjalanan menuju langit, kuda tunggangan sang dewa tidak kelaparan, dan hewan peliharaannya di dunia tidak mati kelaparan. Pada tanggal 23 dan 24 itu, rumah Dewa Dapur dibersihkan lalu diberi sesajen. Sesajen ini ada yang wajib; ada yang tidak wajib.

Sesajen wajib berupa permen yang manis, liat, dan lengket, manisan buah kundur yang dikenal sebagai tangkua atau tangkwe. Sesajen tidak wajib berupa roti goreng dan teh, yang merupakan bekal bila sang dewa merasa lapar dan haus. Rumput untuk bekal makanan kuda tunggangan sang dewa, sedangkan kulit tahu untuk ayam peliharaannya yang ditinggalkan di bumi.

Sesajen wajib harus manis supaya sang dewa hanya melaporkan hal-hal yang “manis”. Selain manis, juga harus liat dan lengket. Begitu mengulum permen, mulut sang dewa menjadi sulit dibuka sehingga tidak banyak bicara dan hanya tersenyum saja.

Dengan demikian, lengkaplah “perhatian” manusia dalam menghantar dewanya naik ke langit dengan menyimpan maksud tertentu di balik semua itu. Selain itu, pada rumah dewa dipasang bait berpasangan, kuplet atau duilian berbunyi “naik ke langit mengatakan hal yang baik, pulang ke rumah membawa keberuntungan” , atau “naik ke langit mengatakan hal yang baik, turun ke dunia menjaga perdamaian”.

Di desa Tai Xing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, penduduk desa percaya sebelum berangkat naik ke langit, Dewa Dapur menghitung jumlah sumpit di rumah tempat tinggalnya. Ketika turun ke bumi, rezeki yang dibawanya sesuai jumlah sumpit yang ada. Sebelum upacara sembahyang, kepala keluarga menambah jumlah sumpit dengan harapan pada saat turun ke bumi nanti, Dewa Dapur akan menambah rezeki mereka.

Bulan 12 berakhir pada tanggal 30. Bulan berikutnya adalah bulan 1 yang disebut Cia Gwee (bahasa Hokkian) / bulan Zheng (bahasa Mandarin). Malam terakhir di bulan 12 ini disebut chuxi, yang berarti “malam yang ditinggalkan” , maksudnya malam terakhir di tahun itu yang akan ditinggalkan dalam memasuki tahun baru. Malam itu merupakan malam paling baik, ramai, dan menyenangkan karena merupakan malam menyambut kedatangan hari pertama di tahun yang baru.

Ada tiga kegiatan penting pada malam itu. Sebelum acara makan malam bersama, kepala keluarga memasang petasan. Kemudian, pintu utama rumah ditutup dan disegel dengan kertas merah. Tujuannya, agar hawa dingin-karena saat itu musim dingin- tidak masuk ke rumah.

Kertas merah sebagai lambang uang, merupakan alat untuk menjaga kesejahteraan keluarga. Sesudah pintu ditutup, lalu dipasang perapian dengan tujuan mendapat hawa hangat selain mengusir hawa dingin.

Acara berikutnya, makan malam bersama dengan hidangan wajib berupa ikan. Di Indonesia, misalnya Jakarta, umum disajikan ikan bandeng. Kebiasaan ini mendapat pengaruh dari daerah Tiongkok Selatan. Di Tiongkok Utara ada kebiasaan makan jiaozi (penganan berbentuk pempek kapal selam mini, terbuat dari tepung khusus berisi daging dan sayur). Mengapa makan ikan, bukan binatang lainnya? Alasannya, ada pepatah berbunyi nian nian you yu “setiap tahun ada sisa”. Kata yu yang berarti “sisa” berbunyi sama dengan kata yu yang berarti “ikan”. Kesamaan bunyi itulah yang menyebabkan mengapa ikan menjadi hidangan wajib di malam tahun baru. Dengan makan ikan, berarti dalam segala hal
ada sisa. Tentu saja yang dimaksud adalah kelebihan rezeki. Makanan wajib lainnya, kue keranjang yang disebut nian gao. Kata gao “kue” berbunyi sama dengan gao yang bermakna “tinggi”. Dengan makan kue keranjang, diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi. Buah jeruk menjadi lambang keberuntungan karena lafal kata jeruk dalam
bahasa Mandarin – juzi – mirip ji yang berarti “keberuntungan” .

Saat makan malam itu, di Tiongkok ada kebiasaan memberi angpao kepada anak kecil. Kata angpao berasal dari bahasa Hokkian. Angpao atau hongbao dalam bahasa Mandarin bermakna “bungkusan merah”, tidak mengacu uang yang khusus diberikan pada tahun baru. Nama uang pemberian khusus di tahun baru disebut yasui qian, bermakna “uang
penutup tahun”.

Selesai makan malam, seluruh anggota keluarga bercengkerama, main catur semalam suntuk sambil bermain petasan. Menjelang tengah malam petasan yang dibunyikan semakin banyak dan besar. Pada zaman dulu digunakan juga meriam buluh untuk memperoleh suara dentuman lebih keras lagi. Tujuannya, untuk mengusir setan dan hantu. Malam itu malam terakhir musim dingin yang berasosiasi dengan Yin yang menimbulkan hawa dingin, gelap tanpa sinar bulan sehingga banyak setan berkeliaran.

Keesokan harinya merupakan hari pertama tahun baru, sekaligus menandai dimulainya musim semi. Musim semi berasosiasi dengan Yang yang menimbulkan hawa hangat, tanda-tanda kehidupan dimulai lagi, seperti bunga mulai bermekaran. Malam itu merupakan malam untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang sudah dilalui dan menyambut tahun baru yang akan dijalani dengan penuh harapan

Selain penjelasan di atas, dari sumber lain disebutkan bahwa melacak sejarahnya, Imlek bukanlah perayaan keagamaan tertentu, melainkan upacara tradisional masyarakat Tiongkok. Di Tiongkok, Imlek diperingati bersama oleh warga yang beragama Konghucu, Buddha, Hindu, Islam, Katolik dan Kristen. Awalnya dahulu, Imlek atau Sin Tjia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama awal tahun baru.

Perayaan itu juga berkaitan dengan pesta menyambut musim semi, yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Capgomeh. Tujuannya, tak lain sebagai syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, di samping untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan
kerabat dan tetangga.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Tiongkok, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, dipilih hidangan yang berasosiasi pada makna “kemakmuran” , “panjang umur”, “keselamatan” , atau “kebahagiaan” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya, sebagai simbol harapan akan kehidupan yang lebih manis di tahun baru. Dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rejeki yang berlapis-lapis, kue mangkok dan kue keranjang. Bubur sangat dihindari sebagai hidangan di hari ini karena dianggap melambangkan kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Dan, lima belas hari sesudah Imlek dilakukan suatu perayaan yang disebut dengan Capgomeh. Masyarakat keturunan Tionghoa di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Capgomeh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai.

Selamat tahun baru Imlek….!!!

Sincun Kionghie…! !!

Gong Xi Fa Chai…!!!

Keterangan : Disarikan dari berbagai sumber

Read Full Post »

Upacara penikahan di Tiongkok selalu mengupayakan suasana yang meriah, hangat, riang gembira dan mujur.

Terjalinnya pernikahan pada zaman Tiongkok kuno harus melalui 6 prosedur,termasuk membawa antaran kawin dan meminang, membawa antaran pinangan dan bertunangan, dan menjemput penganten. Pada waktu itu, ketika seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang pemudi, meminta mak comblang melamar ke rumah pemudi tersebut dengan membawa antaran pinangan, mak comblang segera menukar kartu yang bertulisan nama dan usia kedua pasangan muda-mudi. Kalau kedua pihak pada pokoknya setuju, baru mulai bertunangan.

Bertunangan merupakan salah satu mata rantai penting dalam adat istiadat pernikahan, mentalitas tradisional ialah setelah bertunangan tidak boleh diubah jalinan hubungan kedua pihak, yaitu tidak diizinkan salah satu pihak membahas hal itu dengan pihak ketiga, serta menjadikan hal tersebut sebagai hukum.

Pada hari menjemput penganten, mempelai perempuan kebanyakan memakai pakaian merah untuk menandakan mujur dan riang gembira, sekarang sudah tentu ada yang memakai gaun putih yang panjang. Ketika pengantin perempuan meninggalkan rumahnya, harus menangis di perjalanan untuk menyatakan kenangan terhadap rumahnya. Setelah tiba di rumah pengantin lelaki, upacara berikut ialah menyembah langit dan bumi, sembah sujud di hadapan orang tua pengantin lelaki dan pasangan   baru itu saling menyembah. Kemudian, pasangan baru itu minum arak dengan bersilangan tangan. Di dalam kamar pengantin, sejoli baru tersebut saling menggunting rambutnya sendiri, untuk disimpan sebagai tanda mata terjalinnya pernikahan.

Klimaks upacara pernikahan ialah jamuan makan. Kadang kala pengantin lelaki dan sebagian tamu mabuk karena kebanyakan minum arak. Acara terakhir ialah meramaikan kamar pengantin, para tamu untuk memeriahkan upacara pernikahan, menyulitkan pasangan baru dengan atraksi beranekaragam agar hari tersebut tak dapat terlupakan bagi pasangan baru untuk seumur hidup.

Read Full Post »

Older Posts »