Feeds:
Posts
Comments

Didi Syafirdi – detikNews

Jakarta – Menyambut Hari Raya Tahun Baru Cina atau Imlek barongsai sepanjang 100 meter disiapkan. Barongsai raksaksa ini akan diarak oleh 300 orang siswa dari Trinity International School menuju Central Park, Jakarta Barat.

“Barongsai dibawa besok pukul 15.00 WIB dari depan sekolah menuju Central Park,” ujar Pemilik Yayasan Trinity International School, Paulina Hartana, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (11/2/2010).

Ide awal menciptakan barongsai dari 7.668 botol air mineral dengan tinggi 3,68 meter itu, diakui oleh Paulina, karena dirinya sering melihat murid-murid di Trinity yang membawa minum. Namun, setelah habis botolnya langsung dibuang begitu saja.

“Dari situ terlintas untuk mendaur ulang botol-botol ini,” ungkapnya.

Pembuatan Barongsai ini juga tidak memakan waktu lama hanya satu minggu, dibantu oleh 15 orang kru. Paulina sengaja memilih membuat barongasi karena beberapa hari lagi Imlek.

“Karena mau Imlek makanya terfikir membuat barongasi,” ungkapnya.

Barongsai ini menurut Paulina, merupakan yang terpanjang di Indonesia. Umumnya barongsai pada hari Imlek hanya 3-4 meter. “Barongasi ini masuk dalam rekor MURI, sebagai barongasai terpanjang” tandasnya.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/02/11/201237/1297956/10/sambut-imlek-barongsai-sepanjang-100-meter-disiapkan

Advertisements

Adat Pernikahan

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).

ADAT PERNIKAHAN
Upacara pernikahan merupakan adat perkawinan yang didasarkan atas dan bersumber kepada kekerabatan, keleluhuran dan kemanusiaan serta berfungsi melindungi keluarga. Upacara pernikahan tidaklah dilakukan secara seragam di semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi menurut tempat diadakannya; yaitu disesuaikan dengan pandangan mereka pada adat tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.
Umumnya orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia membawa adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Salah satu adat yang seharusnya mereka taati adalah keluarga yang satu marga (shee ) dilarang menikah, karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan suku. Misalnya : marga Lie dilarang menikah dengan marga Lie dari keluarga lain, sekalipun tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga sangat diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ke orang lain. Misalnya : pernikahan dengan anak bibi (tidak satu marga, tapi masih satu nenek moyang).
Ada beberapa yang sekalipun telah memeluk agama lain, seperti Katolik namun masih menjalankan adat istiadat ini. Sehingga terdapat perbedaan di dalam melihat adat istiadat pernikahan yaitu terutama dipengaruhi oleh adat lain, adat setempat, agama, pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing.

UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM PERNIKAHAN
Pesta dan upacara pernikahan merupakan saat peralihan sepanjang kehidupan manusia yang sifatnya universal. Oleh karena itu, upacara perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula halnya dengan adat pernikahan orang Tionghoa yang mempunyai upacara-upacara antara lain:
A. Upacara menjelang pernikahan :
Upacara ini terdiri atas 5 tahapan yaitu :
* Melamar : Yang memegang peranan penting pada acara ini adalah mak comblang. Mak comblang biasanya dari pihak pria.
* Penentuan : Bila keahlian mak comblang berhasil, maka diadakan penentuan bilamana antaran/mas kawin boleh dilaksanakan.
* “Sangjit” / Antar Contoh Baju : Pada hari yang sudah ditentukan, pihak pria/keluarga pria dengan mak comblang dan kerabat dekat mengantar seperangkat lengkap pakaian mempelai pria dan mas kawin. Mas kawin dapat memperlihatkan gengsi, kaya atau miskinnya keluarga calon mempelai pria. Semua harus dibungkus dengan kertas merah dan warna emas. Selain itu juga dilengkapi dengan uang susu (ang pauw) dan 2 pasang lilin. Biasanya “ang pauw” diambil setengah dan sepasang lilin dikembalikan.
* Tunangan : Pada saat pertunangan ini, kedua keluarga saling memperkenalkan diri dengan panggilan masing-masing, seperti yang telah diuraikan pada Jelajah No. 3.
* Penentuan Hari Baik, Bulan Baik : Suku Tionghoa percaya bahwa dalam setiap melaksanakan suatu upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan pernikahan kurang tepat akan dapat mencelakakan kelanggengan pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu : jam sebelum matahari tegak lurus; hari tergantung perhitungan bulan Tionghoa, dan bulan yang baik adalah bulan naik / menjelang purnama.

B. Upacara pernikahan :
* 3 – 7 hari menjelang hari pernikahan diadakan “memajang” keluarga mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai wanita. Mereka membawa beberapa perangkat untuk meng-hias kamar pengantin. Hamparan sprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin. Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon mempelai wanita sampai hari H.
* Malam dimana esok akan diadakan upacara pernikahan, ada upacara “Liauw Tiaa”. Upacara ini biasanya dilakukan hanya untuk mengundang teman-teman calon kedua mempelai. Tetapi adakalanya diadakan pesta besar-besaran sampai jauh malam. Pesta ini diadakan di rumah mempelai wanita. Pada malam ini, calon mempelai boleh digoda sepuas-puasnya oleh teman-teman putrinya. Malam ini juga sering dipergunakan untuk kaum muda pria melihat-lihat calonnya (mencari pacar).

C. Upacara Sembahyang Tuhan (“Cio Tao”)
Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun, adakalanya upacara Sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam menjelang pernikahan. Upacara Cio Tao ini terdiri dari :
. Penghormatan kepada Tuhan
. Penghormatan kepada Alam
. Penghormatan kepada Leluhur
. Penghormatan kepada Orang tua
. Penghormatan kepada kedua mempelai.

Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahnya diberi 7 macam buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan.
Di bawah meja harus ada jambangan berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah ?2 meter dan di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang umur dan setia.
Kedua mempelai memakai pakaian upacara kebesaran Cina yang disebut baju “Pao”. Mereka menuangkan teh sebagai tanda penghormatan dan memberikan kepada yang dihormati, sambil mengelilingi tampah dan berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan memberikan arti secara simbolik.

D. Ke Kelenteng
Sesudah upacara di rumah, dilanjutkan ke Klenteng. Di sini upacara penghormatan kepada Tuhan Allah dan para leluhur.

E. Penghormatan Orang tua dan Keluarga
Kembali ke rumah diadakan penghormatan kepada kedua orang tua, keluarga, kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan “ang pauw” baik berupa uang maupun emas, permata. Penghormatan dapat lama, bersujud dan bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.

F. Upacara Pesta Pernikahan
Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran ditukar dengan pakaian “ala barat”. Pesta pernikahan di hotel atau tempat lain.
Usai pesta, ada upacara pengenalan mempelai pria ( Kiangsay ). Mengundang kiangsay untuk makan malam, karena saat itu mempelai pria masih belum boleh menginap di rumah mempelai wanita.

G. Upacara sesudah pernikahan
Tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
1. Cia Kiangsay
2. Cia Ce’em
Pada upacara menjamu mempelai pria (“Cia Kiangsay”) intinya adalah memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama.
Sedangkan “Cia Ce’em” di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh keluarga besar mempelai wanita.
Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Cina yang lebih sederhana.

PERUBAHAN YANG BIASA TERJADI PADA ADAT UPACARA PERNIKAHAN
* Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti: mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.
* Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya. Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah, tetapi untuk yang beragama Kristen tetap ke Gereja dan upacara di Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti dengan di gereja.
* Pengaruh pengetahuan dan teknologi, dapat dilihat dari kepraktisan upacara. Dewasa ini orang-orang lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara yang berbelit-belit. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang telah dipengaruhi oleh teknologi canggih.

Sebagai suatu pranata adat yang tumbuh dan mempengaruhi tingkah laku masyarakat yang terlibat di dalamnya, sasaran pelaksanaan adat pernikahan Tionghoa mengalami masa transisi. Hal ini ditandai dengan terpisahnya masyarakat dari adat pernikahan tersebut melalui pergeseran motif baik ke arah positif maupun negatif dan konflik dalam keluarga.
Dewasa ini masyarakat Tionghoa lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara adat. Hampir semua peraturan yang diadatkan telah dilanggar. Kebanyakan upacara pernikahan berdasarkan dari agama yang dianut.

Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999

Filsafat China

Filsafat China adalah salah satu dari filsafat tertua di dunia dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar dari 3 filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia.

Filsafat dasar lainnya adalah Filsafat India dan Filsafat Barat. Masing-masing filsafat tentunya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa. Di bawah ini saya kutip sejarah filsafat China dari situs Filsafat Kita. Mohon ditanggapi baik dari segi kebudayaan, sejarah ataupun agama, karena ini juga adalah rangkuman dari seorang peminat filsafat Indonesia.

FILSAFAT CHINA

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina.

Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewa-dewa semua dikuasai oleh suatu nasib buta (“Moira”), dan ketika kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar:

1. Jaman Klasik (600-200 S.M.)

Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun, kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum, misalnya “tao” (“jalan”), “te” (“keutamaan” atau “seni hidup”), “yen” (“perikemanusiaan”), “i” (“keadilan”), “t’ien” (“surga”) dan “yin-yang” (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman klasik adalah:

Konfusianisme
Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, “guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao (“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan.
Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan (“yen”), yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.

Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”).

Yin-Yang
“Yin” dan “Yang” adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang tertentu.

Moisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah “cinta universal”, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek.

Ming Chia
Ming Chia atau “sekolah nama-nama”, menyibukkan diri dengan analisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga disebut “sekolah dialektik”, dapat dibandingkan dengan aliran sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal
seperti “eksistensi”, “relativitas”, “kausalitas”, “ruang” dan “waktu”.

Fa Chia
Fa Chia atau “sekolah hukum”, cukup berbeda dari semua aliran klasik lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu sistem undang-undang yang keras sekali.

Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturut-turut: (1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okultisme (dari ahli-ahli magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli politik.

2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)

Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan “Nirwana” dari ajaran Buddha, yaitu “transendensi di seberang segala nama dan konsep”, “di seberang adanya”.

3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)

Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

4. Jaman Modern (setelah 1900)

Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.

Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani, filsafat Helenisme, “filsafat Kristiani”, filsafat Islam, filsafat jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.

Rinto Jiang

http://iccsg.wordpress.com/

Pada tahun 1899 di An Yang propinsi HeNan ditemukan situs purbakala yang penting, yaitu kota YinXv (dinasti Shang) dan tulisan JiaGuWen ? ? ?. Sejak itu pengetahuan mengenai YinShang memasuki babak baru.

Berdasarkan itu , para ahli tulisan kuno beranggapan bahwa tulisan Jia GuWen adalah tulisan purba yang termasuk lengkap dan baik.
Hingga hari ini telah diketahui lebih dari 3000 aksara jia guwen, termasuk kata benda, kata kerja, kata ganti, kata kerja pembantu. Ini membuktikan telah adanya susunan tata bahasa. Bahkan bisa dibuat suatu bentuk narasi lebih dari 170 huruf.
Dari fakta-fakta ini, para ahli berpendapat bahwa jia guwen bukanlah asal mula aksara mandarin, sebelumnya pasti telah melewati
suatu proses yang panjang.

Darimana asal mula aksara mandarin , ini telah menimbulkan suatu perdebatan. Sejarawan senior dan ahli bahasa kuno yaitu Guo MoRuo dan Yv ShengWu (cat:salah satu telah meninggal) beranggapan bahwa kelahiran aksara mandarin berasal dari kebudayaan kuno Tiongkok yaitu BanBo YangShao (cat:yang sering disebut YangShao WenHua) yang telah berumur lebih dari 6 ribu tahun. Guo MoRuo beranggapan bahwa 20 hingga 30 ideograph atau simbol yang terdapat di gerabah merupakan cikal bakal aksara mandarin. Demikian pula pendapat Yv ShengWu.

Tapi belakangan ini penelitian beberapa ahli beranggapan bahwa tulisan aksara pada YangShao dan kebudayaan Da WenKhou (cat:propinsi ShanDong, Da WenKhou WenHua) tidak memiliki hubungan langsung dengan aksara mandarin, proses perubahan dan pembentukan aksara mandarin berkisar 3000 BC.

Pendapat ini menurut Zhang Rong adalah tidak relevan. Perlu diketahui bahwa 7500 tahun yang lampau telah ada sistem pertanian dan peternakan , terutama di sepanjang sungai Chang Jiang. Bahkan pada masa itu jawawut telah digunakan sebagai pakan ternak. Dan banyak ahli telah memiliki suatu pandangan bahwa kisah kaisar purba yaitu Shen Nong dan FuXi merupakan suatu era atau masa. Misalnya sistem penghitungan dan administrasi Fu Xi merupakan sistem yang digunakan para peternak dan petani untuk menghitung dan administrasi.

Berdasarkan beberapa penemuan terakhir , awal sejarah aksara mandarin telah berumur 8500 tahun yang lampau. Walau terdapat beberapa perbedaaan kecil antara aksara kebudayaan Yang Shao dan HongShan (CMIIW), tapi ini tidak menjadi suatu rintangan dalam pembentukan Han Zhi.

Disini kita bisa mengetahui bahwa ternyata sejarah Han Zhi itu memiliki umur yang panjang.

by Perfect Harmony
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1893

Jakarta memiliki seratus lebih kelenteng. Salah satunya kelenteng tua Jin De Yuan di kawasan Pecinan Lama, Glodok, Jakarta Barat. Kelenteng ini dibangun tahun 1650 oleh seorang Luitnant Tionghoa bernama Kwee Hoen dan menamakannya Koan lm Teng atau berarti Paviliun Koan lm.

Tahun 1755, kelenteng ini dipugar Kapitein Oei Tjhie dan diberi nama Kim Tek Ie atau Kelenteng Kebajikan Emas. Kim Tek Ie berdiri di atas tanah seluas 3000 meter persegi. Termasuk bara besar atau Tay Bio karena memliki beberapa bangunan. Kini kelenteng yang masih berdiri kokoh ini, bernama Wihara Dharma Bhakti, namun orang lebih sering menyebutnya Petak Sembilan.

Kelenteng Petak Sembilan dikelilingi tembok. Pintu utamanya berada di selatan yang berupa gapura naga merah. Sebelah kiri gerbang ada tiga bangunan kelenteng yang berderet. Di halaman kedua terdapat kelenteng utama menghadap ke selatan berikut dua singa (Bao Gu Shi) yang konon berasal dari Provinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan.

Gedung utama Petak Sembilan didominasi warna merah. Atap bangunannya melengkung ke atas, berhias sepasang naga. Di dalam ruangannya terdapat puluhan film berukuran besar, setinggi badan orang dewasa dan ratusan lilin-lilin kecil yang menyala. Bau asap dupa bertebaran menebarkan aroma khas hingga ke luar ruangan. Di bagian samping kiri gedung utama terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Sedangkan di pojok kanan halaman belakang terdapat sebuah lonceng buatan tahun 1825 yang merapakan lonceng tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Menjelang perayaan Imlek, biasanya para petugas di kelenteng ini sibuk membersikan dan mengecat ulang pagar besi dengan cat berwarna merah. Kelenteng ini tak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Banyak pula para peziarah dan wisatawan yang datang sambil melihat aktivitas ritual pengunjungnya. Keindahan dan kekhasan kelenteng ini, juga kerap dijadikan obyek pemotretan para penggemar fotograpi dan juga lokasi syuting video musik.

Pernak-pernik Khas

Selain kelenteng, kemeriahan menjelang imlek sangat terasa kalau kita berada di Pasar Petak Sembilan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Terlebih 10 hari menjelang Imlek Banyak warga keturunan Tionghoa dari berbagai pelosok Jakarta datang ke pasar ini untuk membeli perlengkapan khas dalam merayakan datangnya Tahun Baru Cina.

Menjelang Imlek, sejumlah penganan dan pernak-pernik khas imlek laku keras. Kue keranjang berupa dodol khas China yang dibungkus daun atau plastik, banyak diburu pembeli. Apalagi penjualnya mengemas kue keranjang dengan kardus-kardsus cantik berwarna merah. Kue keranjang banyak diburu pembeli karena selain untuk dimakan sendiri dan diantar ke sanak keluarga juga untuk sembahyang.

Aneka manisan kering seperti kana, buah plum dan kulit jeruk yang dimaniskan juga banyak dijual di pasar ini. Ada yang belum dikemas ada juga yang sudah dalam kemasan kardus yang disekat. Makanan yang berasa manis seperti manisan dan permen memang juga dicari pembeli. Masyarakat Tionghoa menganggapnya sebagai perlambang hidup yang manis. Oleh karena itu kedua camilan ringan itu kerap disuguhkan saat merayakan Imlek agar tahun baru membawa kemanisan.

Buah-buahan khas imlek juga menjadi incaran pembeli, seperti jeruk, leci dan buah plum. Aneka jeruk terutama jeruk mandarin, Io dan juga jeruk Bali banyak diborong pembeli. Jeruk dianggap warga Tionghoa sebagai buah yang melambangkan persaudaraan dan kerukunan.

Berada di Pasar Petak Sembilan terlebih menjelang imlek, di antara kerumunan penjual dan pembeli, jelas memberikan nuansa tersendiri. Pasar ini menghadirkan atmosfir yang berbeda dibanding pasar tradisional lain. Deretan lampion dan pernak-pernik khas imlek lain yang berwarna merah yang dijajakan pedagang di sisi kiri kanan jalan, seakan membawa kita berada di salah satu sudut keramaian di negeri China.

Sumber: Majalah Travel Club

He Wenjun. Seorang seniman China telah dinyatakan sebagai pemegang rekor dunia karena menciptakan kuas terbesar di dunia.

Dia menggunakan 12ft besar, £ 115 kuas untuk menciptakan kaligrafi tradisional di pameran khusus di Nanchong, Cina selatan.

Wenjun mengatakan ia membuatnya sendiri dengan menggunakan sikat rambut dari 300 ekor kuda – dan kuas ini dapat menyerap cukup tinta untuk menambahkan lebih dari £ 100 untuk berat kuas.


”Saya sangat bangga menjadi pemegang rekor Guinness baru, “katanya.

“Butuh waktu setahun untuk membuat sikat ini, dan hampir satu tahun lagi untuk belajar bagaimana mengendalikannya.”. lanjutnya.

Karya yang cukup luar biasa yach….

sumber : http://kagakribet.com/fun.php/aqlb5w6q21NL/-Kuas-Raksasa-Di-China-Bikin-Rekor-Dunia

Aksi Chen Xiang ini jangan ditiru, karena bisa menyebabkan kebutaan. Chen Xiang, warga Provinsi Hunan, membuat kaligrafi Cina dengan kuas yang dikepit di matanya. Kuas yang dipakainya sepanjang 1,65 meter dengan berat 2 kg sebelum dicelupkan ke tinta. Bila dicelupkan ke tinta, kuas itu menjadi berberat 10 kg. Nah bisa anda bayangkan, betapa kuatnya kepitan mata Chen Xiang untuk menggerakkan kuas seberat 10 kg. Bagi kita tentu terasa mustahil, tapi bagi Chen Xiang mudah saja!

****

CHINA yang berpenduduk 1 miliar lebih menyimpan potensi besar untuk memasukkan prestasi banyak warganya dalam Guinness Book of Record. Sejauh ini telah cukup banyak warga China yang namanya tercatat di Guinness World Record. Yang menarik beberapa dari rekor-rekor itu tergolong ‘ekstrem’ bahkan berbahaya.

Lihat saja rekor yang diukir lelaki asal Propinsi Hunan, Chen Xiang, yang tercatat sebagai pemegang dua rekor dunia. Salah satunya adalah kemampuan Chen Xiang menulis kaligrafi Cina dengan kuas yang dikepitkan di matanya. Sepertinya tidak masuk akal, tapi itulah yang terjadi.

Pertama-tama Xiang menggepitkan semacam alat ke matanya. Alat itulah yang menghubungkan dengan kuas yang akan dipakainya dalam membuat kaligrafi. Setelah alat dan kuas terhubung, Xiang pun ‘memainkannya’ membentuk kata. Bahkan dengan kepitan bola matanya dia dapat bermain piano.

Salah satu rekornya yang mendapat liputan secara luas adalah membuat kaligrafi dengan mata. Asal tahu saja kuas yang dipakainya itu memiliki panjang 1,65 meter dengan berat 2 kg sebelum dicelupkan ke tinta. Bila dicelupkan ke tinta, kuas itu bisa beberat sekitar 10 kg.

Bayangkan! Kepitan mata Xiang cukup kuat untuk menggerakkan kuas seberat 10 kg. Keluarbiasaan inilah yang dicatat Guinness Book of Record.

Xiang kepada wartawan mengatakan bahwa mungkin orang lain akan merasa tidak nyaman atau sakit bila menjepit pen pada matanya, menulis dengan kuas yang besar (dengan menjepit ke mata). Tapi dia tidak merasakan itu. Kuncinya sederhana, kata Xiang, rajin berlatih. Dia telah melatih hal tersebut dan ternyata sangat mudah menggunakan kuas besar dan menggerakkannya dengan mata.

Namun demikian setiap kali dia menyelesaikan kaligrafinya, kedua matanya akan berwarna merah dan air matanya mengucur. Ia pun sukar membuka kedua matanya. Ini tentu reaksi yang wajar dari mata Xiang. Namun ajaibnya, dalam waktu singkat, setelah dia beristirahat sejenak, radang pada bola matanya perlahan turun, dan matanya pun menjadi normal kembali.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa mata Xiang bukan hanya dapat contact dengan objek asing, tapi juga dapat menanggung beban berat?

Dokter yang melakukan cek up terhadap mata Xiang mendapati bahwa tidak terdapat perbedaan organ pada mata Xian dengan orang lain. Artinya, normal-normal saja. Akan tetapi kata dokter tersebut, sistem organ pada matanya menunjukkan lebih lambat dibanding mata orang normal.

Sebenarnya matanya menunjukkan bahwa ada kesakitan, itu terlihat dari bola matanya yang memerah dan air mata yang mengucur. Namun itu tak ditampakannya. Ia berusaha meyakinkan bahwa memiliki ‘kekuatan supernatural’, karenanya dia berusaha mengontrol rasa ketidaknyamanan itu. Dokter menyarankan agar Xiang tidak melanjutkan hal tersebut karena dapat menyebabkan infeksi bahkan kebutaan.

sumber: xin hua