Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cap go meh’

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.

Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut – suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

Perayaan Cap Go Meh di Jakarta Barat

Jakarta (ANTARA News) – Komunitas keturunan Tionghoa di Jakarta merayakan Cap Go Meh, hari ke-15 atau hari terakhir masa perayaan Imlek, dengan mengarak patung Toa Pe Kong menyusuri jalanan di kawasan Glodok, Jakarta Barat, pada Minggu siang.

Peserta arak-arakan yang antara lain terdiri atas pengusung aneka patung dewa, pemain liong, pemain barongsai, penabuh tambur dan penabuh beduk memulai pawai dari Vihara Dharma Jaya Toasebio di kawasan Petak Sembilan, melalui gang-gang sempit menuju ke Asemka terus ke Toko Tiga, Stasiun Kota Tua, dan Jalan Hayam Wuruk.

Dua Ondel-Ondel dan sekelompok pemain musik yang mengenakan pakaian adat Betawi juga ikut memeriahkan pawai yang berakhir di kawasan Petak Sembilan tersebut.

Warga keturunan Tinghoa berdiri berjejal di sepanjang jalanan yang dilewati arak-arakan untuk memberikan penghormatan kepada patung-patung dewa yang diarak dan menyentuhnya supaya mendapatkan berkah atau sekedar menyaksikan atraksi pemain liong dan barongsai yang bergerak lincah dengan iringan tabuhan beduk dan tambur.

Sebagian warga peranakan Tionghoa menyelipkan angpau, amplop merah berisi uang, ke mulut liong dan barongsai.

Bagi sebagian warga peranakan Tionghoa seperti Stella Ling Ling, Cap Go Meh merupakan tradisi nenek moyang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan.

“Saya Katholik, ikut ini hanya sebagai bagian tradisi saja. Di kuil kadang kita ikut bakar hio, tuang minyak dan berdoa, tapi doanya tetap kepada Tuhan,” kata Ling Ling yang datang ke Vihara Toasebio dan menyaksikan arak-arakan bersama suami dan sahabatnya.

Warga bukan keturunan Tionghoa pun ikut memadati jalan untuk menyaksikan arak-arakan tersebut.

Mereka berdiri memadati pinggiran jalur jalan di kawasan Glodok sampai halte bus TransJakarta di Olimo, membuat bus-bus TransJakarta dan angkutan umum yang tidak bisa melintasi jalanan selama beberapa waktu.

Jembatan penyeberangan juga penuh dengan orang yang ingin menyaksikan dan mengabadikan arak-arakan panjang yang meriah dengan dominasi warna merah tersebut. (M035/A038)

Advertisements

Read Full Post »

Menurut adat istiadat menyantap hidangan onde-onde pada hari Cap Goh Meh mengartikan reuni keluarga.

Onde dibuat dari tepung ketan dan tepung beras, dan isinya terbuat dari daging, bunga mawar dan Kuihua yang dimasak dengan minyak babi, kacang merah dan bijan. Rasanya manis sedikit asin amat serasi dan sangat cocok dengan selera penduduk setempat dan daerah sekitarnya. Sekarang, penghidupan rakyat Tiongkok semakin baik dari hari ke hari, sehingga jarang ada orang yang membuat sendiri onde-onde, kebanyak membelinya dari toko, dan mereka pada umumnya sangat mementingkan mutu dan merek dari onde-onde yang akan dihidangkan pada hari Cap Goh Meh.

Onde-onde berkembang sampai sekarang menjadi lebih beraneka ragam , dan bercitra-rasa macam-macam sesuai dengan di daerahnya masing-masing. Di berbagai tempat Tiongkok terdapat tidak sedikit onde-onde yang terkenal , berikut kami perkenalkan beberapa di antaranya, pertama onde-onde Chengdu yang disebut Lai Tang Yuan.

Tanggal 5 bulan Lima Imlek adalah Hari Raya Peh Cun. Dari tayangan televisi dapat diketahui bahwa di banyak tempat di Tiongkok diadakan lomba perahu naga untuk merayakan hari raya Peh Cun. Selain kegiatan itu, sudah pasti tidak ketinggalan tradisi untuk menyantap bacang pada hari itu, baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli dari toko, karena menjelang hari Peh Cun di pasar maupun toko tersedia melimpah berbagai macam bacang.

Bacang banyak jenis ragamnya dan cita rasanya pun berbeda. Tapi menurut bahannya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu bacang dari beras murni, dan bacang berisi. Bacang berisi bisa manis atau asin isinya, yang manis biasanya berisi kurma atau kacang merah. Sedang yang asin umumnya berisi daging atau ham.

Menurut cita rasanya terbagi pula bacang utara dan bacang selatan. Bacang utara dengan bacang Beijing sebagai wakilnya, kebanyakan terbuat dari beras ketan, dan umumnya berisi kurma atau kacang merah. Sedang bacang selatan terbagi 2 jenis, yaitu bacang Jiangsu dan bacang Guangdong. Bacang Jiangsu terbuat dari beras, dan terkenal dengan bacang asin berisi daging. Sedang bacang Guangdong isinya macam-macam dan sangat lezat rasanya. Masyarakat Tionghoa di Indonesia umumnya juga merayakan hari Peh Cun, dan mereka sangat memperhatikan isi bacang, biasanya isi bacang terbuat dari daging cincang ditambah hioku atau jamur wangi dan berambang daun, sehingga rasanya wangi dan gurih , tapi tidak berlemak. Bacang daging isinya macam-macam, daging babi, daging sapi, daging ayam, daging yang sudah diasin atau diasap, daging casiu , ham , sosis, jamur, daging udang dan ikan. Yang lebih menarik bacang itu terbuat dari beras, jadi tidak seperti ketan yang agak sulit dicerna. Apa lagi dibungkus dengan daun bambu segar , tambah harum menggiurkan ! Bacang seperti itu tidak berlemak , sehingga tidak membosankan. Pada hari raya Peh Cun, bacang sering menjadi hidangan untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

Festival Pertengahan Musim Rontok dikenal juga sebagai Festival Rembulan, atau Hari Tongciu yang jatuh pada tanggal 15 bulan delapan penanggalan Imlek. Di Tiongkok, festival ini dirayakan dengan reuni keluarga dan kegiatan lainnya, namun acara yang tak dapat kurang adalah makan kue rembulan atau tongciupia.

Kue rembulan merupakan makanan tradisional pada Festival Rembulan baik di Tiongkok maupun di kalangan masyarakat Tionghoa di luar negeri. Kue rembulan enak rasanya dan banyak mengandung gizi maka digemari banyak orang.

Read Full Post »

Asal-usul Hari Raya Imlek atau Sin Cia berasal dari negara Tiongkok. Tradisi ini sudah dimulai jauh sebelum ajaran Tao, Khonghucu ataupun agama Buddha muncul dan berkembang di sana. Di Tiongkok, dikenal empat musim, yakni musim semi (Chun), musim panas (He), musim gugur (Shiu) dan musim dingin (Tang). Siklus keempat musim tersebut secara indah diilustrasikan sebagai perjalanan hidup umat manusia yang diawali dengan lahir (semi), tumbuh menjadi dewasa (panas), usia lanjut (gugur) dan meninggal (dingin), yang pada hakikatnya menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal adanya. Untuk itu, seharusnya mereka hidup berdampingan, saling menghormati dan saling mengasihi.

Dahulu kala di Provinsi Hokkian, saat musim dingin sering dilanda hujan besar dan badai salju, sehingga beberapa daerah dataran rendah sering mengalami kebanjiran, sehingga penduduk mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Sebagai bekal, mereka membuat semacam kue yang terbuat dari beras dengan sedemikian rupa, sehingga tahan lama dan tidak basi. Kue tersebut hingga sekarang menjadi tradisi setiap menjelang Sin Cia. Kue keranjang dibuat dalam berbagai ukuran dan disusun dalam keranjang dan disebut kue keranjang.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu, dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis.
Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu sembahyang menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas, dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan, karena makanan ini melambangkan kemiskinan.

Tradisi menyambut Sin Cia biasanya sudah dimulai 15 hari sebelum Sin Cia, di mana ibu-ibu rumah tangga sudah mempersiapkan diri dengan membersihkan/mengecat rumahnya, sedangkan ritualnya dimulai seminggu sebelum hari H, yaitu tanggal 24 bulan 12 (Imlek) dengan mengadakan upacara sembahyang di hadapan altar Dewa Dapur (Caokun Kong).

Konon menurut cerita, setiap akhir tahun mulai dari tanggal 25 bulan 12 hingga tanggal 5 bulan 1 (Imlek), Caokun Kong akan naik ke sorga untuk melaporkan baik dan buruknya perbuatan dari keluarga pemilik altar dan kepada yang sembahyang, akan memohon kepada Caukun Kong agar seisi keluarganya dilaporkan hal-hal yang baik saja. Untuk itu, biasanya dalam sembahyang tersebut disajikan makanan berupa manisan-manisan.
Kemudian, satu hari menjelang Sin Cia pada pagi hari, diadakan upacara sembahyang kepada para leluhur di hadapan altar sembahyang di setiap rumah. Jika tidak memiliki altar leluhur, maka akan disediakan satu meja di pintu muka rumah sebagai altar untuk upacara. Dan pada malam harinya, seluruh anggota keluarga biasanya akan berkumpul di rumah orangtua ataupun yang dituakan atau juga di rumah makan untuk makan malam bersama. Setelah makan malam, berbagai acara dilakukan untuk menyambut detik-detik tahun baru, seperti bakar petasan, atraksi barongsai serta sembahyang di kelenteng-kelenteng (vihara).

Pada esok hari, tanggal 1 tahun 1 (Imlek) akan berkumandang salam “Sin Chun Kiong Hi, Thiam Hok Thiam Siu, Ban Shu Ju I” yang disampaikan ketika menjumpai sanak keluarga dan handai tolan. Salam di atas (dialek Hokkian) artinya “Salam bahagia di musim semi yang baru, semoga bertambah rezeki dan panjang usia, semoga segala yang dicita-citakan dapat tercapai.”

Pada hari itu, anak-anak atau cucu-cucu akan mengenakan baju baru, kemudian menyampaikan ucapan selamat kepada ayah bundanya atau kakek neneknya. Mereka akan mendapatkan ang pao (bungkusan merah) berisikan uang yang diterima dengan penuh suka-cita. Rangkaian perayaan Sincia akan diteruskan dengan upacara Keng Thi Kong (Sang Pencipta) yang diadakan malam tanggal 8 bulan 1. Sembahyang ini untuk menyatakan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Thian) atas segala keberuntungan, keselamatan dan kebahagiaan yang diperoleh sepanjang tahun yang lalu, dan mereka bermohon agar pada tahun yang baru ini akan diperoleh hal yang sama. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki.

Untuk upacara sembahyang Keng Thi Kong ini, sengaja disiapkan seperangkat meja yang bentuknya tinggi, yang melambangkan menjunjung tinggi kepada Tuhan. Sajiannya berupa buah-buahan, manisan dan sayur-sayuran (tidak boleh disajikan makanan berupa daging dari barang bernyawa/hewan sembelihan). Buah-buahan yang umumnya disajikan adalah pisang mas (melambangkan hati yang jujur untuk mencapai keberhasilan), jeruk bali (melambangkan upaya untuk mencapai kesuksesan) dan sepasang tebu yang melambangkan keluarga yang hidup di dalam keharmonisan lahir dan batin. Demikian pula kue yang disajikan, biasanya kue mangkok yang berarti mekar rezekinya dan kue kura panjang usianya bagaikan kura-kura.

Rangkaian terakhir perayaan Sincia adalah Cap Go Meh, yaitu pada tanggal 15 bulan 1 malam hari (Imlek), yaitu pesta di malam bulan purnama yang pertama pada tahun yang baru. Biasanya pada malam tersebut, gadis-gadis pingitan berbondong-bondong ke luar rumah untuk cuci mata di bawah sinar rembulan, diiringi bunyi petasan dan cahaya bunga-bunga kembang api.

Read Full Post »