Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kota petasan’

Oleh: Wartawan ”SH” H. Isyanto (sinarharapan.co.id)

JAKARTA – Ada dua versi tentang kerusuhan etnis Cina di Batavia pada tahun 1740. Ada versi yang mengatakan, pembantaian itu dilatar-belakangi persaingan dagang.
Pedagang Belanda, Eropa dan Arab kalah bersaing dengan pedagang Cina sehingga mereka menghasut penduduk kota Batavia untuk membantai orang Cina.
Versi lain menyebutkan, di masa itu banyak penduduk keturunan Cina di Batavia yang menganggur sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Dengan alasan itulah, pemerintah Kumpeni Belanda membantai mereka.
Entah versi mana yang benar, yang jelas pembantaian itu membuat etnis Cina di Batavia kalang kabut. Mereka melarikan diri ke pinggiran Batavia mencari selamat. Sebagian besar pindah ke Tangerang, Parung, Serpong, Parung Panjang, Tenjo, Cisauk, Teluk Naga dan Balaraja.
Mereka – yang kemudian lebih dikenal sebagai Cina Benteng – membawa serta adat kebiasaannya seperti membakar petasan menjelang pesta perkawinan, menjelang perayaan Peh Cun atau perayaan tradisi Cina lainnya.
Lama-kelamaan tradisi Cina Benteng itu ditiru oleh orang-orang Betawi. Bahkan, sampai sekarang pun orang Betawi –terutama Betawi pinggiran –selalu memasang petasan menjelang pesta perkawinan atau khitanan. ”Kaga afdol kalau ada pesta tapi kaga ade petasan.” Begitu seloroh orang Betawi.
Sebenarnya, memasang petasan memiliki arti simbolis. Yang pasti untuk memberi tahu kepada para undangan dan khalayak ramai bahwa pesta segera dimulai. Membakar petasan juga bisa menimbulkan suasana meriah.
Ada api, ada asap, kata peribahasa. Jika ada yang memasang petasan, pasti ada yang membuat dan menjualnya. Pada tahun 1800-an, pembuatan dan penjualan petasan dilakukan secara diam-diam karena para Cina Benteng itu masih trauma pada kegarangan Kumpeni Belanda.
Karena itulah, pembuatan petasan hanya didasarkan pesanan. Sebagian pembuat petasan masih memberlakukannya hingga sekarang.

Petasan ………….

Pembuatan petasan biasanya dilakukan di rumah-rumah sebagai ‘home industry’ yang hampir-hampir tidak pernah ketahuan, kecuali jika ”pabrik” tersebut meledak.
Ketika pesanan sedang ramai, para Cina Benteng pembuat petasan terpaksa mempekerjakan pribumi. Sebab, meskipun kelihatannya sederhana, membuat petasan memerlukan banyak tenaga yang terdiri tukang gulung kertas, tukang takar obat petasan (terdiri dari bron/mesiu, belerang dan potasium), tukang pantek dan tukang bikin sumbu.
Meskipun begitu, Cina Benteng itu tidak mau menularkan ilmunya begitu saja. Pasalnya, mereka tidak ingin memiliki saingan. Namun yang namanya manusia, cepat atau lambat pasti mengerti cara-cara membuat petasan. Para pribumi mencoba membuatnya. Ternyata, mereka pun bisa.
”Sampai tahun 1965-an, tukang petasan masih berjaya. Pasalnya, masih sedikit orang yang bisa membuat petasan. Di Parung saja, cuma ada empat orang yang bisa, termasuk saya. Empat tahun saya belajar di SMTBP alias Sekolah Menengah Tukang Bikin Petasan. Sekarang, tukang bikin petasan bejibun, hampir di setiap desa ada,” kata Lani (76 tahun), yang telah 37 tahun menjadi pengrajin petasan dan sampai saat ini masih melayani pesanan walaupun kini ia berprofesi sebagai petani empang.

Berkat petasan, ia mampu membesarkan dan menyekolahkan keempat anaknya. Berkat petasan pula, nafas Lani kini kerap sesak. ”Maklum, dah, namanya juga obat. Pelan tapi pasti, mengganggu pernapasan juga,” kata Lani.

Kota Petasan

Bicara tentang petasan rasanya kurang ”legitimate” jika tidak bicara tentang Parung Panjang, sebuah kota di sebelah barat Serpong, yang dikenal sebagai pusat petasan terbesar di Indonesia. Dari kota inilah ratusan kilo petasan dikirim ke Lampung, Banjarmasin, Pontianak dan ke kota-kota lainnya di Jawa.
”Sebenarnya, kami hanyalah pedagang perantara. Para pembuat petasan menyetor kepada kami dan kami hanya menjualnya. Biar begitu, kami tahu barang karena kami juga pernah membuat petasan,” kata seorang pedagang di Parung Panjang, yang berjualan di sekitar stasiun KA dan enggan disebutkan namanya.

Pedagang tersebut mengaku memiliki modal Rp 40 juta sampai dengan Rp 50 jutaan. ”Sebenarnya, ini cuma ”show room”. Kalau bertemu peminat serius, akan saya ajak ke rumah,” katanya. Ia mengaku, penjualan petasan di Parung Panjang mengalami ”booming” di bulan Puasa. Omzet mereka bisa Rp 10 juta sampai dengan Rp 15 juta per hari.

Menurut pedagang itu, petasan untuk orang hajatan berbeda dengan petasan yang lazim dijual pada bulan puasa. Petasan untuk orang hajatan dijual meteran dan jenisnya tertentu. Rentetan petasan kecil diseling dengan petasan besar. Harga per meternya sekitar Rp 15.000.

Petasan khusus bulan puasa lebih beraneka ragam, mulai petasan korek yang murah-meriah (harganya cuma Rp 4.000 per 500 batang), janwe (petasan yang menggunakan lidi dan meledak di udara), petasan teko dan beraneka ragam kembang api.

Tidak jauh dari stasiun Parung Panjang, terdapat sebuah tanah lapang milik seorang wanita yang dipanggil Mamih. Tanah lapang ini dipetak-petak dan disewakan Rp 150.000 per musim petasan. Di atas sepetak tanah berukuran sekitar 2 X 2 meter itu dibangun lapak daripada triplek, tempat para pedagang sekadar berteduh dari hujan dan panas serta tempat mereka memajang barang dagangannya, dari pagi hingga sore selama bulan puasa.

Pembeli petasan berdatangan dari berbagai kota. Dalam bulan puasa tahun ini, diperkirakan omzet Parung Panjang sebagai pusat petasan mencapai miliaran rupiah. Dengan perhitungan, setiap hari setiap lapak mampu menjual petasan senilai Rp 3juta, yang kemudian dikalikan jumlah lapak dan dikalikan 30 hari.
Umumnya, para pembeli menggunakan jasa kereta api dan turun di Stasiun Parung Panjang. Sebab, letak lapak-lapak itu tidak jauh dari stasiun. Tampaknya, hal ini memang sengaja dikondisikan oleh pemerintah daerah setempat.

Yang namanya pedagang, tidak selamanya untung. Terkadang, mereka juga berurusan dengan polisi mengingat mereka menjual barang panas yang mudah meledak.

”Orang yang jualan di sini rata-rata pernah berurusan dengan polisi. Puncaknya, ketika salah seorang pedagang di sini terlibat peledakan BCA sehingga kami ikut-ikutan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan. Untung, semua itu telah berlalu dan kami bisa berjualan lagi. Habis mau bagaimana lagi, ini sudah tradisi,” kata seorang pedagang wanita, yang juga enggan disebutkan namanya.

Para pedagang di lapak itu kabarnya telah membuat ”MoU” dengan aparat. Dengan begitu, mereka aman menjalankan usahanya tanpa harus takut digrebek. Petugas juga terkesan menjamin keamanan para pembeli. Buktinya, tidak pernah lagi razia terhadap pembeli petasan dalam partai besar.

”Kita sama-sama cari makanlah. Dengan adanya petasan, pedagang lain di Parung Panjang ikut kecipratan rejeki. Tukang nasi, tukang minuman, tukang parkir dan PT KAI. Belum lagi, bagi para petani yang membuat petasan sebagai pekerjaan sambilan,” kata pedagang itu.

Mudah Curiga
Memasuki pusat perdagangan petasan di Parung Panjang jauh lebih mudah katimbang memasuki daerah ”pabrik” petasan di daerah Parung, Sawangan, Tenjo atau Gunung Sindur. Para pengrajin petasan di sana mudah curiga terhadap orang asing. Hal ini disebabkan pembuatan petasan sudah seperti bisnis desa yang melibatkan banyak keluarga. Dan mereka tidak mau ”pendaringannya” terganggu.

Sebuah stasiun televisi swasta nyaris dilempari ketika hendak meliput cara-cara membuat petasan di Parung. Padahal, tim televisi swasta tersebut hanya akan mengambil gambar tangan mereka saja, tanpa menyebutkan nama desa dan nama orang. Bahkan, ketika pihak televisi menawarkan uang kompensasi Rp 500.000, mereka malah tersinggung dan nyaris melemparinya dengan batu.

Kasus terakhir terjadi di desa Parung Poncol, Sawangan, ketika sebuah pabrik petasan meledak dan melukai tiga orang, Kamis (8/11). Polisi yang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) pun mereka usir.

Pengalaman serupa juga dialami SH. Namun untungnya, diantar oleh penduduk asli setempat SH sehingga tidak sempat diusir atau dilempari. ”Pokoknya, kesimpulannya gini aja, dah, Pak. Selama masih ada orang kawin dan selama masih ada bulan puasa, bisnis petasan takkan pernah mati,” kata seorang pengrajin yang juga enggan disebutkan namanya. ***

Advertisements

Read Full Post »